Arif Widianto

Belajar dari Kebodohan

Saya tak tahu, kenapa saya lama tidak menulis di blog ini.

Saya tidak tahu, entah alasan lain apa selain sebuah alasan yang paling masuk akal dari berbagai kemungkinan jawaban yang pernah saya punya. Malaskah saya?

Entahlah.

Mungkin saya pernah merasa, saya adalah orang malas. Tapi saya punya kesibukan setiap hari, dan saya puas, kesibukan dan pekerjaan itu dapat menjadi apologi atas tindakan saya yang lain.

Apologi, alasan klise untuk memaafkan diri ini.

Dari apologi itu pula, saya makin bingung, apakah saya harus tetap menjadi kebodohan saya ini, sebagai apologi, atas terjadi berbagai kejadian besar, dahsyat, nestapa yang bertubi-tubi mendera saudara kita ini.

Jumat lalu, di tengah kebingungan mengejar deadline, hujan turun deras! Sangat deras sekali. Untung, saya masih berada di rumah, duduk tepekur di depan komputer, mengetik entah apa. Senin depan saya ada janji untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Saya berpikir, ah seandainya Senin hujan, saya bisa senang menjadikan alasan itu untuk membatalkan pertemuan dengan orang itu.

Senin memang hujan. Sangat lebat. Dan Jakarta dan sekitarnya tenggelam, seminggu lamanya. Bencana banjir terparah sepanjang yang saya ketahui!

Sampai saat ini, saya masih sedih, apakah dalam hidup saya harus selalu beraologi? Kenapa saya bisa berpikir begitu di hari Jumat lalu?

Pekerjaan. Tuntutan hidup. Kebutuhan untuk bertahan. Membahagiakan keluarga. Daripada disikat orang lain. Terpaksa. Itulah alasan-alasan selama ini kita berapologi.

Kita merusak alam Jakarta, beserta tatanan masyarakatnya, sosialnya, hukumnya, semua karena terpaksa. Harap maklum. Mohon tidak menyalahkan pemerintah saja, Anda pun terlibat.

Tetapi, saya pun tahu, menyalahkan diri sendiri itu sulit, lebih sulit lagi untuk berpikir apakah mungkin kita harus menyalahkan diri sendiri.

Karena semua tatanan rusak, mari kita ramai-ramai merusaknya. Karena semua orang melanggar hukum, mari kita semua melanggarnya. Karena semua tidak taat berlalu lintas, maklumlah semua pengendara tidak taat juga. Karena semua orang membangun vila di Puncak, marilah kita bangun juga, uang kita juga. Karena semua orang menipu, boleh lah menipu pula. Karena mereka melupakan rakyatnya, marilah kita lupa rakyat kita.

Begitu pula saat banjir kemarin, karena semua orang tidak percaya kepada pemimpinnya, mereka tidak bangun ketika pemimpin itu bicara: “Besok banjir tinggi, harap mengungsi!” Semua orang tidak kaget, lalu menjawab, “Iya pak, kita juga lihat di Tipi, nanti pada saatnya kita mengungsi” Orang enggan, tidak ada jaminan kenyamanan dan keamanan meninggalkan rumah mereka. Padahal apalah harta terbesar mereka, TV dan Kulkas! Akhirnya ribuan orang terjebak banjir. Ketika tiga hari terendam, tetap saja mereka tidak mau beranjak melindungi harta benda satu-satunya milik mereka. Padahal, ancaman penyakit, dingin, nyawa mereka menjadi taruhan. Bukankah ini kebodohan? Siapa yang membuat mereka bodoh? Lingkaran kebodohan kita semua bisa terlihat saat banjir kemarin. Lingkaran kebodohan yang sudah mengikat erat dan menjadikan kita manusia paling kejam di sebuah sistem yang tidak kita sadari, sistem yang bernama Jakarta (atau Indonesia pada umumnya).

Karena semua bodoh, tidak ada salahnya kita bodoh sebentar saja, toh kita sebenarnya pintar karena bisa bodoh.

Beda orang bodoh dan orang menyadari kebodohannya adalah saat berhenti. Orang bodoh tidak tahu saatnya dia berhenti bertindak bodoh, karena dia memang bodoh. Orang yang menyadari kebodohannya tahu saatnya ia harus berhenti, karena ia menyadari ternyata ia bodoh.

Ah, lupakan bahwa kita bodoh. Mari kita tertawa saja. Besok ada pekerjaan, dikejar deadline lagi. Bertemu dan berdebat dengan klien. Hidup masih panjang.

Apakah selamanya kita akan berapologi?