Paman Tyo, begitu ia ingin disebut, punya tulisan menarik apakah “blognya adalah karya jurnalistik”:http://blogombal.org/2006/08/07/blog-ini-bukan-halaman-jurnalistik/, beriku kutipannya:

Lantas bagaimana dengan blog ini? Tetap sebuah jurnal pribadi, lengkap dengan segala tanggung jawab saya, disertai (kemungkinan) ganjalan etis maupun moral, komplet dengan ranjau hukum yang mungkin saya hadapi sebagai warga negara.

Kemudian, paman yang juga jurnalis ini mengutip lagi bahwa bila blog dianggap sebagai jurnalis, ia juga harus melakukan langkah-langkah peliputan seperti jurnalis:

Jika yang saya lakukan adalah pekerjaan jurnalistik, maka prosesnya juga harus sesuai standar jurnalistik. Mau mainstream media atau bukan, ketika saya menanyai bahkan memotreti narasumber di pasar maka saya harus memperkenalkan diri, lalu menjelaskan maksud saya menanyakan ini-itu dan memotreti sana-sini.

Tentu di dalam paket dan perkenalan merangkap penjelasan maksud itu sudah termasuk info tentang media pribadi saya, yaitu blogombal.

Kalau narasumber tak paham apa itu blog, saya harus menjelaskan blog dengan bahasa yang dia mengerti, bahkan bila perlu setelah laporan saya ter-online-kan maka saya harus mencetakkan halaman web itu dan menunjukkannya.

Memang benar. Saya sepakat dengan hal itu. Dan menjadi blogger jurnalis memang berat.

Jadi, gimana dong? Setelah bertele-tele, dan memutar sana-sini, maka saya cuma menyatakan bahwa ngeblog njurnalistik itu tidak gampang. Bahkan ngeblog tanpa niat jurnalistik pun tetap berkemungkinan tersandung perkara. Dengan catatan: tersandung belum tentu kita yang bersalah.

Apa yang diungkap paman Tyo, semua itu benar. Pada hakikatnya, bila ingin mengomentari sesuatu, kita harus mengutip dengan tepat, memberi pernyataan sesuai dengan apa yang kita kutip tersebut. Dan, ini akan menjadi sebuah naluri dan alami ketika para blogger mengutip sumber-sumber online dan mengomentari hal-hal sehari-hari yang mereka nyatakan.

Kalau blog kita hanya menceritakan dunia kita, protes sedikit tetapi yang kita protes sudah menjadi pemberitaan mainstream, mungkin kita bukan blogger jurnalis. Hanya seseorang yang kritis, anggap saja sebuah jurnal maya.

Blogger jurnalis, harus seperti yang diceritakan paman Tyo itu. Mereka harus paham “9 elemen jurnalisme”:http://www.pantau.or.id/referensi.detail.php?id=13. Bila akan mengkritik, harus disertai alasan dan bukti yang jelas. Bila menuduh, harus ada bukti. Dan seterusnya.

Berat? Di Amerika, ada seorang “blogger dipenjara”:http://commentisfree.guardian.co.uk/jeff_jarvis/2006/08/a_blogger_behind_bars.html. Tapi seharusnya para blogger tidak perlu takut. Kalau kita coba kritis dari awal, dan memerankan peran yang tepat sebagai blogger (dengan batasan, hak, dan kewajiban yang kita laksanakan), seharusnya blogger yang akan menjadi jurnalis akan aman-aman saja.