Arif Widianto

Inovasi Rame-Rame

Setelah menulis tentang kapital, saya jadi terpikir, kenapa perusahaan sebesar AOL, Google, British Telecom, dsb, mempercayakan pengembangan sebuah unit usahanya ke provider publik, bahkan secara terbuka? Faktor terakhir ini tentu krusial, karena dengan mengadakan pencarian bakat publik lewat TopCoder.com misalnya, pesaing tentu bisa mempelajari strategi mereka.

Ya, kita bisa berdebat, mungkin hanya sedikit strategi yang dipertaruhkan lewat cara ini. Tapi, berpikir tentang ini saja membuat saya terkagum-kagum. Wow, dunia benar-benar rata, seperti kata Friedman.

Mari kita lihat AOL. Dua kali mereka mengadakan lomba di TopCoder Studio, entah berapa kali di lomba kategori software karena saya belum pernah mengikuti kategori ini.

Lomba pertama adalah AOL Video Mashup. Mash up, adalah suatu bentuk usaha penggabungan konsep dari dua layanan menjadi sebuah layanan baru yang menambah nilai tambah dari layanan utama. Pada pokoknya, AOL ingin mencari ide paling keren yang ada, untuk mengembangkan layanan AOL Video mereka. Tak tanggung-tanggung hadiahnya $12,000.

Lomba kedua adalah AOL Web AIM Mashup. Sama, peserta ditantang membikin oprekan layanan baru dari Web Instant Messaging punya AOL saat ini. Hadiahnya, lumayan $5,000 untuk pemenang pertama. Tahukah ide yang menang? Idenya tidak terlalu revolusioner, ide ini mirip NetMeeting, produk kolaborasi Microsoft ketika era IE 4.0 dulu. Dengan mashup ini, sambil ngechat, kita akan dapat bertukar corat-coret gambar, dsb.

Lalu yang terakhir, lomba mashup kerjasama British Telecom dan Microsoft, mereka juga mengadakan lomba Mashup untuk Conected Services Framework. Peserta diminta ide terbaik untuk sebuah aplikasi penunjang bisnis yang memanfaatkan layanan aplikasi British Telecom dengan framework aplikasi dari Microsoft. Layanan Aplikasi ini meliputi kemampuan untuk: ber-SMS, membuat atau menerima telepon, tele-konferensi, status, data, dll.

Gejala apakah ini?

Apakah perusahaan-perusahaan itu kehilangan ide untuk menambah fitur bagi layanan mereka? Apakah mereka tidak mampu membayar konsultan untuk menemukan dan mengeksekusi ide dan gagasan baru? Apakah mereka tidak takut ide pemenang di lomba mereka tersebut dicuri oleh lawan? Banyak pertanyaan seperti ini.

Tapi seketika saya tahu, pertanyaan-pertanyaan itu tentu sudah dijawab ketika perusahaan global tadi terjun ke lomba mashup ini.

Mungkin perusahaan kekurangan ide. Tentu sangat masuk akal. Kata pakar manajemen, pekerjaan perusahaan adalah menghasilkan profit. Kalau kehabisan ide, cari ide di tempat lain, gaji mereka yang punya ide, curi ide dari mana saja. Apakah lomba ini termasuk salah satu jawaban tadi? Benar. Mungkin saja mereka kehabisan ide. Kompetisi sudah sangat ketat. Semua ide sepertinya sudah diambil. Maka, ide terbaik dan tercepat yang dapat dieksekusi tentu menghasilkan peluang untuk keuntungan.

Lalu, apakah mereka tidak mampu membayar konsultan? Mampu lah, tentu saja. Tapi kenapa menggantungkan ke lomba? Salah satu alasan logis adalah faktor promosi buzzword, mulut ke mulut, dan apresiasi publik. Jangan lupa, dengan mengadakan lomba seperti ini, perusahaan penyelenggara akan mendapat tempat lebih dekat di hati komunitas.

Apakah mereka tidak takut idenya dicuri oleh pesaing? Pasti. Tapi ingat, di luar sana bukan seperti di Indonesia. Ketika sebuah program/proyek sukses, seketika semua orang tidak tahu malu meniru dan menduplikasikannya. Akibatnya, semuanya jadi gagal total karena kehilangan keunikan.

Tentu saja jangan lupa faktor-faktor lain. Dengan mengadakan lomba, perusahaan mendapat akses langsung ke profile sumber daya manusia paling canggih di bidangnya. Kalau tertarik, tinggal rekrut aja.