Arif Widianto

Kisah Uang $100 yang tak Sampai ke Amerika

Jika ada pertanyaan, apa perjalanan saya yang paling bermakna, saya pasti langsung bilang perjalanan pada bulan Juni-Juli 2007. Seluruh hal yang memberikan makna dan daya tarik ada pada perjalanan medio 2007 itu. Kejutan, impian, kepertamaan, dan happy ending. Semua ada. Inilah cerita saya.

Kejutan pertama adalah pada Maret 2007. Dalam sebuah klasemen lomba, saya merasa bahwa ada kans cukup besar kalau saya akan mendapat tempat untuk diundang dalam lomba desain di Amerika Serikat. Ceritanya begini, ada sebuah perusahaan Amerika yang mengadakan lomba tahunan, lombanya bidang komputer, mulai dari pemrograman hingga desain grafis. Lomba diadakan secara online, dan semua peserta dari seluruh penjuru dunia bisa mengikutinya. Dari hasil lomba online tersebut, akan diambil 12 besar peraih skor terbanyak, dan mereka akan diundang untuk berlomba langsung di Las Vegas, Amerika Serikat (A.S.). Wow. “Gilaaaaaaaa!”, begitulah saya membatin.

Meski belum cukup pasti apakah saya akan diundang karena hasil akhir menunggu pengumpulan skor pada akhir April 2007, saya beranikan diri untuk mempersiapkan segala macam dokumen. Alasan saya: 1) saya punya feeling saya bisa dapat tempat; dan 2) Ini ke Amerika, dan saya dengar segala persiapan dokumen di sana ribet, lebih baik saya siap lebih awal. Dan lagi, saya belum punya paspor! Ini paspor pertama.

Pada akhir Maret 2007 saya bergegas ke kantor imigrasi Jakarta Selatan. Pada awal April akhirnya paspor jadi. Rasanya saya begitu terpesona. Betapa tidak, saya sudah berumur, 28 tahun cukup berumur bukan? Sudah menikah. Sudah mempunyai anak. Baru punya paspor. Udik bener deh saya. Tapi memang, hingga awal 2007, saya tidak pernah punya impian bisa ke luar negeri. Alih-alih berpikir, seperti kebanyakan orang Jakarta yang berpenghasilan pas-pasan, jalan-jalan adalah urusan nomor sekian dan ini mungkin mendekati daftar paling akhir prioritas kami. Jadi inikah paspor pertama itu, demikian batin saya. Saya tatap kertas-kertas kosong dengan nomor berlobang di setiap halamannya. Saya merasa ini dokumen paling keren sepanjang hidup saya. Saya punya banyak buku, tapi menurut saya buku kecil ini paling keren. Berapa stempel negara akan menghiasi halaman-halaman ini ya? Dari kecil saya selalu punya cita-cita untuk mempunyai pekerjaan yang bisa membawa saya keliling dunia. Tapi semua cita-cita itu kandas setidaknya hingga usia saya 28 tahun itu, karena ternyata saya tersesat dan hanya ngumpet di kolong Jakarta. Inikah saatnya semua petualangan itu akan dimulai?

Sebenarnya kalau dibilang paspor pertama dan perjalanan pertama, jujurnya ini bukan yang pertama. Saya bepergian ke luar negeri pertama kali pada 2002, untuk menunaikan ibadah haji (ssst, saya diberangkatkan orang tua, saya pasti tidak mampu menabung pada tahun itu dan saya masih bujangan). Jadi kalau dibilang apakah haji itu perjalanan independen, sepertinya bukan. Perjalanan ibadah haji cukup gampang, semua sudah diatur mulai dari keberangkatan, jalur khusus imigrasi, termasuk akomodasi dan transportasi utama di Arab Saudi. Semua sudah siap. Kita tinggal mengikuti jadwal dan kegiatan yang sudah diberikan, pasti dijamin lancar. Ya, menurut saya travel agent haji bernama pemerintah Indonesia sudah mengatur semua dengan cukup baik meski fasilitas bisa dipertanyakan. Kemudian ketika dalam dokumen pembuatan paspor ada sebuah kolom isian semacam ini, apakah Anda mempunyai paspor sebelumnya. Saya tanyakan kepada petugas imigrasi di sana, mereka bilang paspor haji itu dokumen khusus dan bukan paspor. Jadi, ya, ini adalah perjalanan ke luar negeri pertama dengan paspor pertama.

Baiklah, mari kita percepat kisah ini. Saya akhirnya mendapat tempat di daftar klasemen lomba tersebut. Saya masuk dalam salah satu orang yang diundang untuk berangkat ke Las Vegas, Amerika Serikat, dengan syarat harus punya dokumen visa. Dua minggu hampir tiga, aplikasi visa turis B1/B2 Amerika Serikat itu akhirnya disetujui. Wah, terima kasih pak Bush, presiden AS saat itu, saya tidak menyangka Anda sebaik itu memberikan peluang bagi orang dari Jombang udik ini. Saya takut setengah mati bakal ditolak karena asal saya Jombang dikenal kota santri. Anda tahu bukan, santri banyak mengaji. Dan mengaji adalah kegiatan umat Islam. Muslim itu kebanyakan teroris, bukan begitu pemikiran teman-teman pak Bush saat itu? Tapi syukurlah, mungkin karena bantuan teman-teman di tempat saya bekerja sebelumnya yang saya sebut sebagai referensi dalam dokumen aplikasi visa, akhirnya saya diberi kesempatan ini. Padahal ada seorang teman istri saya yang bekerja di kedutaan Amerika bilang, “Ini susah, lho. Kamu harus bisa menunjukkan komitmen akan kembali ke Indonesia. Biasanya yang disetujui adalah orang yang sudah pernah melakukan kunjungan ke negera lain, jadi ada komitmen mereka akan kembali” Sebagai informasi, Amerika dikenal ketat dalam pemberian visa kunjungan karena banyak kejadian orang tidak ingin kembali ke negara asalnya sesampainya mereka di negeri impian orang itu. Paspor baru dengan visa baru untuk kunjungan ke Amerika. Benar-benar tidak dibayangkan.

Waktu berlalu cepat. Setelah sibuk berkemas, saya mulai berpikir tentang uang saku. Betapa tidak. Ini Amerika, dan Las Vegas. Kota judi. Jadi pasti tidak ada nasi. Saya yakin pasti harus makan burger, mungkin BigMac atau Wendy’s. Untung saya suka keduanya. Makan burger adalah hobi sampingan saya saat usia 22-25 tahunan, dan itulah yang membuat saya buncit. Harga burger di Vegas tentu lebih mahal daripada di sini. Dan oh my, dompet dan kartu gesek saya lagi kembang kempis. Selain persiapan, saya tentu harus meninggalkan dana untuk keluarga di rumah, dan sisa uang sangat sedikit. Setelah buat belanja tas koper dorong merk Condotti dan juga keperluan lain, saya hitung uang tersisa hanya sekitar $300. Berapa duit yang harus saya bawa ya, untuk minimal bertahan hidup? Karena saya diundang, penyelenggara bilang akan memberikan makan pagi dan siang di tempat. Jadi kira-kira saya hanya perlu mengeluarkan dana untuk makan malam, atau kadang-kadang makan siang bila ingin jalan-jalan. Saya bisa menghemat ongkos untuk hal itu. Karena bingung dan tidak tahu tanya ke mana, saya kemudian tanya penyelenggara, berapa sih uang saku yang cukup untuk hidup di Vegas selama satu minggu? Jessie Ford, sang event manager tersebut pasti cukup heran. Ini orang dari dunia ketiga kasihan amat. Makanya dia lalu bilang $100 dolar mungkin cukup. Kalau dihitung-hitung sehari makan burger atau lainnya, dan sebuah paket burger (atau makanan) seharga $15, lima hari akan menghabiskan $75. Jadi sepertinya cukup. Uang $100 dolar yang katanya harus rapih dan tidak boleh terlipat itu akhirnya saya masukkan amplop. Saya letakkan amplop itu di ruas tersendiri dalam tas pinggang. Ruas lainnya berisi paspor, tiket, dan dokumen lain.

Dengan itu semua saya lalu berangkat ke Vegas. Saya menyisakan beberapa ratus ribu rupiah (tak sampai 500 ribu rupiah) untuk transpor dari dan ke bandara, dan untuk jaga-jaga ketika pulang ke Indonesia nanti.

Berikut adalah rangkaian perjalanan saya ke Vegas:

  • 25 Juni 2007, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng (CGK) – Suvarnabhumi, Bangkok (BKK), menumpang Garuda Indonesia kode penerbangan GA 866. Berangkat pada 10:00 PM. Sampai di Bangkok 1:30 AM. Lama perjalanan 3 jam 30 menit. Transit di Suvarnabhumi sekitar 4 jam 30 menit.
  • 26 Juni 2007, Suvarnabhumi, Bangkok (BKK) – San Fransisco, A.S. (SFO), menumpang Northwest Airlines kode penerbangan NW 28. Berangkat pada 6:00 AM. Sampai di San Fransisco diperkirakan pada 9:55 AM, pada tanggal yang sama waktu setempat (telat 1 hari di sana). Lama perjalanan 17 jam 55 menit. Transit di San Fransisco sekitar 2 jam 10 menit.
  • 26 Juni 2007, San Fransisco, A.S. (SFO) – MacCarran, Las Vegas, A.S (LAS), menumpang pesawat US Airways kode penerbangan US 395. Berangkat pada 12:45 PM. Sampai di Las Vegas pada 2:14 PM.

Saya berangkat sendiri. Pada 26 Juni 2007 dini hari itu, sampailah kaki pemuda kelahiran Jombang ini di negeri Siam. Bandara Suvarnabhumi sungguh megah. Bangunannya modern. Bersih. Elok. Pas kalau ditujukan sebagai bandara transit dunia. Bandara ini baru dibuka pada September 2006. Pada Juni 2007 ketika saya ke sana, tentu semua masih baru dan kinclong.

Bandara Suvarnabhumi

Setelah keluar pesawat Garuda, saya lalu mengklaim bagasi dan keluar imigrasi. Entah bagaimana saya merasa aneh, kenapa harus keluar imigrasi? Konon ini berhubungan dengan tiket saya yang dipesan atas nama Garuda Indonesia, dan penerbangan Northwest seperti rangkaian tiket lain. Akhirnya saya keluar dari lantai dua (kalau tidak salah). Saya sempatkan diri melihat area kedatangan di lantai satu. Lalu kemudian naik ke lantai tiga dan kemudian ke lantai empat.

Hampir semua toko di lantai tiga saat itu tutup. Tapi saya masih ada melihat beberapa buka, termasuk sebuah toko grocery FamilyMart di sudut kelokan dekat tangga otomatis di lantai tiga itu. Di lantai tiga itu pula saya lihat pula ada ruang mushalla. Wah, hebat Thailand ini. Saya tak mengira negeri dengan penduduk mayoritas Budha menyediakan ruang ibadah bagi umat muslim yang sangat representatif dan tempatnya tidak tersembunyi pula. Kemudian saya naik ke lantai empat. Di sinilah area utama keberangkatan. Dari ujung koridor luas dan terbuka itu berderet gerbang reservasi tiket. Di kejauhan terlihat koridor A dan di kejauhan lainnya koridor W yang paling ujung.

<<< GAMBAR >>>

Saya kemudian mencari koridor tempat maskapai Northwest, saat itu pada koridor N. Waktu masih menunjukkan pukul dua pagi lebih beberapa menit. Gerai tiket internasional baru akan dibuka pukul tiga, karena penerbangan saya pukul enam, standar untuk penerbangan internasional loket akan dibukan tiga jam sebelumnya. Baiklah saya mau mencoba tidur sebentar di kursi tunggu yang dingin itu.

Pada pukul tiga pagi terlihat beberapa staf bandara mengatur sistem antrian berkelok-kelok. Wah, pasti penumpangnya banyak sekali. Setelah dibuka pada pukul tiga, saya langsung ikut antri. Tampak seluruh penumpang dicek ulang, dan bagasi diberi tag dari perusahaan keamanan (saya lupa namanya). Keren. Atau gila? Ya, mungkin wajar, ini adalah perjalanan ke Amerika. Saya lalu maju ke meja tiket untuk mengklaim tiket saya (biasanya yang disebut tiket hanyalah kupon penerbangan, dan bukan boarding pass). Baru melangkah beberapa saat, baru sadar saya harus berbahasa Inggris. Panik. Harap maklum, karena sebelumnya saya menumpang Garuda, mereka juga masih memakai bahasa Indonesia. Tapi ini harus terjadi. Dan terjadilah.

Klik, klak, demikian bunyi papan ketik komputer. Wajah petugas wanita keturunan India itu tampak heran. Lalu dia telpon-telpon. Bahasa Inggrisnya nyerocos. Saya penasaran dan menajamkan telinga. Saya mendengar lamat-lamat kata ini: “Contract stopped. Failed. Problem. Garuda Indonesia.” Wow. “Apa ini?” batin saya. Saya teringat berita beberapa hari sebelumnya tentang Garuda Indonesia dan maskapai penerbangan lain yang dilarang masuk ke negara-negara Uni Eropa. Apakah ini berhubungan? Hati saya berdegup.

Akhirnya setelah cukup jelas, sang petugas lalu menerangkan kepada saya. Beritanya bisa dirangkum seperti ini. Menurut sang petugas, maskapainya saat itu menghentikan kerjasama dengan Garuda (dan dia bilang baru saja terjadi). Karena penghentian kerjasama ini, mungkin kerjasama penerbangan lanjutan, maka maskapainya, Northwest, tidak bisa bisa lagi menerima penerbangan lanjutan dari Garuda, seperti tiket saya ini. Dia menyarakan saya menghubungi petugas Garuda, mengapa mereka melakukan itu, sebab menurut dia ini bukan kesalahan saya atau travel agent saya (sebenarnya perusahaan sponsor yang memesankan itu lewat travel agent di Amerika Serikat).

Ugh. Bencana.

Saya lalu berkeliling mencari loket Garuda Indonesia. Ada seorang petugas wanita di sana. Orangnya bisa berbahasa Indonesia. Asyik. Saya lalu bercerita masalah saya. Wah, tampaknya dia bingung kenapa ini terjadi. Dia lalu telpon supervisornya, seorang laki-laki. Setelah tahu masalah saya, bapak tersebut lalu mengajak saya ke loket Northwest lagi, dan kali ini saya cuma diam menunggu. Akhir setelah mereka berdiskusi, sang bapak petugas kembali ke saya dan menjelaskan berita duka itu. Tiket saya memang tidak diakui. Petugas Garuda menyalahkan pihak travel agent. Tapi saya menyalahkan Garuda, kenapa masih menjual tiket terusan kalau kontrak sudah akan dihentikan. Ah, karena saya bingung siapa yang salah, saya lalu tanya petugas Northwest, menurut dia saya sebaiknya bagaimana? Setelah berpikir sebentar, wanita keturunan India berusia 30-an itu lalu menyarankan saya untuk menghubungi travel agent atau perusahaan sponsor. Apalagi waktu masih pukul empat pagi. Di Amerika masih siang. Demikian katanya. Semoga mereka masih membantu.

Menelpon ke Amerika. Habis berapa duit ya? Apakah tidak mahal? Perlu diketahui, saat itu saya tidak tahu ada teknologi bernama Skype. Hal lain adalah saya takut tidak bisa menjelaskan dengan baik masalah ini. Inggris saya belepotan. Tapi baiklah, saya harus berusaha.

Untungnya saya mempunyai kartu kredit. Meski limit tidak begitu banyak. Tapi saya kira cukup untuk menelpon. Katakanlah sampai 1 juta rupiah pun saya siap. Bila itu terjadi. Saya berpikir, sejelek-jeleknya ini tidak ada solusinya, saya akan beli tiket balik ke Jakarta saja. Untungnya pula di bandara Suvarnabhumi tersedia pay phone berbasis kartu kredit yang jumlahnya melimpah. Saya tidak membayangkan bagaimana tagihan telepon nanti bila harus memakai fasilitas roaming internasional dari ponsel saya.

Akhirnya saya sukses menjelaskan masalah saya lewat telepon. Dan pihak travel agent berjanji akan membantu saya. Nyalakan saja handphone-mu. Wow, untung telpon seluler saya yang dua band bisa aktif di Thailand. Baik, demikian pikir saya. Beberapa saat kemudian mereka menelpon, dan bilang, tolong saya ke loket Northwest, dia ingin berbicara dengan petugas yang menangani saya tadi. Saya kembali ke loket Northwest, lalu saya berikan ponsel saya. Petugas wanita tadi lalu berbicara dengan travel agent saya melalui telepon. Setelah itu saya disuruh menunggu.

Waktu menunjukkan pukul empat pagi. Jarum jam bergerak lambat tak mau kompromi dengan degup jantung saya. Tak terasa pukul lima pagi. Belum ada kabar dari travel agent. Saya sudah duduk. Sudah tidur-tiduran di kursi yang makin terasa seperti es. Mencoba selonjorkan kaki di atas koper. Mencoba membaca buku. Saya siap apapun yang terjadi.

Tak lama kemudian jarum jam bergerak ke pukul lima lebih 10 menit. Ah, waktunya Subuh. Saya lalu turun ke lantai tiga, tempat Prayer Room, dengan semua bawaan saya. Setelah salat Subuh, saya sempatkan meluruskan punggung di mushalla yang sepi itu. Hanya ada seorang, sepertinya warga Thailand, mungkin seorang petugas kebersihan yang salat di situ. Lalu sepi kembali. Saya tidak dapat memejamkan mata.

Pukul enam lewat beberapa menit, mungkin lebih 10 menit, tiba-tiba telpon saya berbunyi. Singkat kata, travel agent bilang dia mendapat tiket pengganti. Saya akan terbang dengan maskapai United yang akan berangkat pada pukul tujuh pagi. Dia lalu tanya saya di mana. Saya bilang di bandara, lantai lainnya dari area keberangkatan. Dia lalu bilang, cepetan kamu lari. Bergegas saya merapikan barang. Mencatat detil maskapai United tadi. Terakhir saya tanya, ini bagaimana saya meminta tiket saya, kan semuanya sudah tidak diakui? Petugas travel agent itu lalu menjawab, berikan saja paspormu dan bilang kami sudah memesankan tiketmu.

Saya lalu bergegas. Berlari. Hampir melompat. Mendorong kereta dorong sekencang-kencangnya. Lalu di lantai empat, membabi buta untuk mencari letak kaunter tiket maskapai United, dan segera meluncur menuju mereka. Terengah-engah. Saya berikan paspor saya. “Saya punya tiket untuk ke Las Vegas baru dipesan oleh travel agent saya. Tolong segera diproses. Ini paspor saya!” Demikian kata saya hampir setengah berteriak. Petugas itu tanya “Mana bukti kupon tiket dan lain-lain?” Saya menjawab, “Sudah cari saja pasti ada nama saya!”

Dan benar. Ada sebuah tiket tercantum atas nama saya. Tiket segera dicetak. Ada perubahan rute penerbangan. Penerbangan tidak langsung ke Amerika, tapi harus transit di Tokyo, Jepang. Saya akan menumpang United kode penerbangan UA 838 dari Bangkok (BKK) ke Narita, Tokyo, Jepang (NRT). Berangkat pada 6:50 AM. Akan sampai di Narita pada 3:00 PM. Dari Tokyo nanti saya akan Los Angeles, kemudian dilanjutkan ke Las Vegas.

Tokyo Arrivals

Petugas itu lalu bilang, nanti kamu ikuti petugas ini. Dia menunjukkan seorang pemuda Thailand. Karena penerbangan akan segera berangkat dalam sepuluh hingga dua puluh menit ke depan, kamu akan diantarkan melalui imigrasi yang cepat. Ikuti saja dia. Baik, kata saya. Kami lalu berlari-lari ke pintu masuk keberangkatan. Menuju ruang imigrasi khusus diplomat, dan memang sangat cepat. Lalu masuk ke area pemeriksaan barang. Gila. Semua tas harus dibuka. Amerika memang paranoid. Dan karena panik, saya akhirnya merelakan pasta gigi Pepsodent saya ikut dibuang di tempat sampah karena tidak terbungkus plastik dengan baik. Pemuda Thailand yang mengawal saya di luar area tunggu teriak ikuti saja alur menuju ke gate. “Baik. Terima kasih banyak ya!”

Akhirnya saya masuk ke pesawat. Lima atau sepuluh menit kemudian pintu pesawat ditutup. Ufffh. Saya tak bisa melukiskan perasaan yang tepat saat itu. Beberapa saat kemudian saya mengecek semua barang bawaan dan akhirnya tahulah saya. Amplop tempat berisi uang $100 tadi hilang entah di mana. Ah, semoga itu berguna untuk orang yang menemukannya. Kemungkinan besar tertinggal di mushalla saat saya terburu-buru mencatat detil penerbangan dan amplop terlupa di rak sepatu. Jadi saya akan terbang ke Amerika Serikat berbekal beberapa ratus ribu rupiah.

Here I Am, Vegas

Is it a Real Vegas?

Tentu, aku harus mencari ganti uang saku yang hilang itu. Beruntung jaman serba canggih, aku bisa ambil duit di anjungan tunai mandiri di sana. Uang di rekening rupiah seketika disulap jadi dolar.

Dengan dana itulah saya bisa bertahan lima hari di Vegas (dan diperpanjang menjadi enam hari, karena terjadi kesalahan pemesanan tiket kembali).

Itulah cerita perjalanan pertama saya. Itulah kisah uang $100 dolar yang tak sampai ke Amerika. Kisah ini tidak akan terlupakan dalam sejarah hidup saya.

Disunting oleh SA 24/02/10.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Ranselkecil pada 23 Februari 2010.