Arif Widianto

Masalah Mogok Menulis

Bagi penulis profesional atau orang-orang yang pernah menerbitkan buku, novel, dan karya ilmiah, problem satu ini pasti jadi momok yang menakutkan. Mata masih lancar untuk baca-baca majalah, koran, karya tulis buatan orang lain. Pikiran masih segar, otak pun masih semangat untuk mencari hal-hal baru. Tapi tangan ini, rasanya sangat berat untuk menelurkan sebaris kata-kata untuk dipublikasikan di media virtual ini. Inikah momen macet/mogok menulis?

Bagi penulis amatir seperti saya, tentu saja problem ini tidak begitu mengkhawatirkan dibandingkan para penulis beneran yang mengalami problem ini. Bagi mereka, problem ini tentu saja bisa berakibat fatal, seperti dibatalkannya kontrak menulis novel mereka, dibatalkannya deal publikasi artikel, atau mungkin menghancurkan karir profesional mereka, karena sebuah problem yang sangat wajar datang akan bagi setiap orang.

Kenapa sih orang mogok menulis? Kenapa saya macet untuk menulis?

Suatu waktu saya pernah mempunyai blog yang cukup populer, hingga dikenal ke negeri antah berantah, dan mempunyai jumlah pengunjung harian yang dibandingkan pengunjung situs saat ini sungguh tidak ada apa-apanya. Saya pernah merasakan Google Ranks tingkat 6, dan saat ini untuk mencapai ranking 4 saja rasanya sungguh berat (weblog bahasa Inggris saya mencapai sudah 4). Tapi apa yang terjadi kemudian? Saya mogok menulis, dan bahkan hal itu terjadi hampir dua tahun, dan hilanglah semua “prestasi” tadi.

Jumlah pengunjung jauh berkurang. Merintis dan membina PageRank dari awal sungguh berat. Itu saja efek mogok menulis yang saya rasakan.

Sejujurnya, saat ini saya merasakan kembali penyakit mogok menulis itu. Entah kenapa sebabnya? Maka, saya sangat salut kepada teman-teman yang bisa mempertahankan untuk tetap menulis setiap saat, di tengah berbagai masalah yang membuat sebuah alasan untuk mogok menulis jadi masuk akal.

Ya, semua orang sibuk. Semua orang mungkin pernah merasakan begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Semua orang pernah mempunyai masa ketika keluarga mereka membutuhkan perhatian begitu banyak. Semua orang pernah mengalami itu. Tapi apakah mereka mogok menulis? Itu yang menjadi pertanyaan saya.

Saya ingin kapan-kapan bisa menulis sesuatu yang bermakna, seperti cita-cita saya, terutama sebauh karya sastra, apa pun bentuknya. Tapi kalau saya tidak bisa membereskan masalah mogok menulis ini, tentu saya akan susah menuju cita-cita itu bukan?

Saya menyukai medium blog untuk mengeluarkan uneg-uneg dan isi pikiran saya. Saya mencintai medium blog ini seperti saya mencintai diri saya sendiri.

Semoga tulisan ini bisa memecahkan kebekuan untuk tetap menulis.