Arif Widianto

Masruri dan Anak-anak Naga


© MetroTV

Acara bincang-bincang Kick Andy di MetroTV, Minggu, 31 Maret 2007 lalu (siaran ulang) menampilkan fenomena yang menarik. Andy Noya, sang presenter, menghadirkan beberapa anak hebat, makanya saya sebut saja Anak Naga. Naga adalah binatang legenda yang sering diibaratkan prestasi atau puncak kehebatan.

Anak-anak Naga ini ada banyak jumlahnya di Indonesia. Kita tentu bangga dengan hal ini. Sebut saja Rafi, drummer jazz dalam usianya yang belia (berapa ya? 10 tahun?) sudah melanglang buana, membuat album Can’t Stop the Beat, diproduksi oleh Harvey Mason, drummer Fourplay. Jangan-jangan saya nanti jadi penggemar Rafi juga, setelah saya juga suka musik-musik kuartet Mason bersama Lee Ritenour dkk itu. Gadis kecil berprestasi lainnya, Nilam Zubir, 11 tahun, juga berprestasi mewancarai 160 orang lebih tokoh Indonesia.

Ada pula Labiqoh, putri kecil berusia lima tahun berasal dari kota Apel, Malang, Jawa Timur. Baru saja ia mengadak pameran lukisan menggelar 40 karyanya. Dan, lukisan tersebut laku semua! Selain pandai melukis, Labiq, begitu ia dikenal, pandai pula membacakan puisi. Saya sendiri kagum dengan cara intrepretasi syair, dramatisasi, dan puitisasi yang dibawakannya. Padahal, puisinya bukan kategori tema anak-anak.

Ada pula tiga pembuat film cilik, Sifa dkk, yang menjuarai prestasi film dokumenter Panasonic (?) dan juga dalam kompetisi dunia. Film lima menitnya, mendokumentasikan pembuatan angklung, alat musik tradisional khas Indonesia. Juga tak dilupakan Meiliana, gadis SMP berusi 13 tahun ini, ia mampu menghitung perkalian 8 digit dengan 4 digit angka, hanya dalam hitungan detik! I juga menjuarai berbagai prestasi internasional, meraih rekor MURI, dan memecahkan kembali rekor sebelumnya atas namanya sendiri.

Masruri dan Monica


© Liputan6

Masuri Rahmat, asal Kemayoran, Jakarta, adalah Anak Naga yang menjadi sorotan kali ini. Anak sopir bajai ini telah meraih prestasi juara pertama kejuaraan tingkat ASEAN dan masuk 10 besar pecatur dunia untuk kelas anak. April ini, ia akan mengikuti kejuaraan catur dunia untuk anak di Yunani. Sang Anak tidak merasa ekonomi ayahnya menghalangi prestasinya. Selain itu ada pula Monica, bocah kelas VI SD di Balikpapan, Kaltim, juga akan mengikuti kejuaraan catur anak di Yunani. Prestasi Monica diraih di tengah kesibukannya membantu ibunya berjualan sayur dan sembilan bahan pokok di rumah kontrakannya. Di tengah kemiskinan, mereka mampu meraih prestasi gilang gemilang dan mengharumkan nama bangsa ke seluruh dunia.

Pada 27 Maret lalu, Masruri diundang ke SCTV untuk wawancara langsung di Liputan6 bersama Bayu Setiono.

Ia dan enam saudaranya tinggal di bilangan Kemayoran, Jakarta Pusat, di permukiman padat dan miskin. Ruang tempat tinggalnya cuma seluas 2 × 3 meter. Tapi, puluhan piala dan medali menghiasi ruangan kecil ini. Total dia berhasil mengalahkan 168 orang.

Indonesia banyak menyimpan atlet cilik berbakat, tapi kurangnya perhatian dari pemerintah membuat bakat-bakat terpendam itu sulit berkembang. Hal itu diakui Masruri. “Sudah jadi grandmaster dunia, tapi hidupnya kok tidak berubah,” ujar Masruri kepada Bayu Sutiono dalam dialog Liputan 6 Pagi. Anak sopir bajaj itu menambahkan, saat hendak bertanding, Masruri terlebih dahulu meminjam uang ke tetangga.

Pengalaman menyedihkan itu pernah dirasakan Masruri kala mengikuti turnamen tingkat ASEAN di Ancol, Jakarta Utara, setahun silam. Usai meraih empat medali di kejuaraan itu, Masruri pulang ke rumahnya di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dengan berjalan kaki.

Bayangkan, untuk maju ke turnamen internasional, harus membiayai sendiri dengan cara berhutang. Apakah para pejabat Percasi, atau Menteri Olahraga, atau paling tidak Bupati tidak tahu. Prestasi seperti ini tentu bisa terdeteksi. Kalau toh tidak ada anggaran, apakah tidak mungkin meminta tolong, bilang ke media massa seperti SCTV itu.

Menteri Pemuda dan Olahraga Adyaksa Dault mengatakan, keluarga Masruri baik ayah dan kakak tidak diperkenankan ke Yunani. Katanya, hanya pelatih yang diperbolehkan ikut tandang ke pertandingan internasional. Padahal mereka selama ini menjadi pelatih Masruri.

“Kalau orang tua ikut dalam setiap pertandingan maka anak-anak itu tidak menjadi mandiri. Jadi ketentuannya baik miskin atau kaya kalau bertanding di luar, orang tua tak boleh ikut,” kata Adyaksa dalam Liputan 6 Pagi, Rabu (28/3).

Jawaban ini menurut saya tidak simpatik. Pertama, orangtuanya adalah pelatihnya. Kedua, kita berhadapan dengan anak, yang tidak ada hubungannya dengan mandiri atau tidak. Tentu sangat wajar bila anak-anak didampingi orangtuanya. Sangat manusiawi. Mereka adalah bintang yang akan berprestasi, sebisanya didukung. Biaya ke Yunani berapa sih, akomodasi dll, 10-20 juta per orang, apakah ini tidak bisa dicari? Kerjasama dengan sponsor? Meminta keringanan dan bantuan panitia, bantuan pada kedutaan Yunani? Tidak ada salahnya toh? Lebih baik malu mengakui kekurangan (tidak ada dana), daripada menghancurkan calon-calon bibit prestasi belia ini.

Soal Masruri, Adyaksa menegaskan bahwa tak semua masalah dilimpahkan ke Departemen Pemuda dan Olahraga. Sebab yang menemukan bakat dari bakal atlet itu ada Percasi. Adyaksa mengatakan sudah meminta 100 rumah untuk atlet yang berprestasi pada tahun depan. “Saya minta ngotot,” kata dia.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)

Ini adalah tanggungjawab kita bersama. Inilah jawaban standar para pejabat kita. Dalam kutipan lainnya, pak Menteri berkata,

Sebelumnya, pemerintah dan Percasi yang menaungi cabang catur di Tanah Air keberatan bila dituding tak memberikan perhatian bagi atlet berprestasi tingkat dunia. Menurut Menteri Pemuda dan Olahraga Adyaksa Dault, bibit unggul di dunia olahraga yang berasal dari keluarga miskin bukan hanya Masruri. “Kita ini punya ratusan orang seperti Masruri,” ujar Adyaksa [baca: Menpora: Bukan Hanya Masruri yang Miskin].

Untunglah, simpati untuk pecatur cilik berbakat berdatangan terus, termasuk bantuan dana menjelang persiapan Kejuaraan Dunia Catur di Yunani.

Kalau saja Masruri itu anak kita sendiri, kita tentu akan mengusahakan apa saja, seperti yang dilakukan orangtuanya, termasuk berhutang, agar anaknya bisa maju bertanding dan berprestasi. Gagal suksesnya anak kita adalah kebanggaan. Bila gagal, setidaknya ia pernah mencoba, dan kita bangga dengannya. Bila sukses, siapa lagi yang akan bangga.

Sayang, para pejabat kita bukan orang tua yang melindungi anak-anaknya.