Arif Widianto

Menyelesaikan Marathon

Tiap orang punya alasan berbeda.

Catatan: tulisan ini saya muat ulang dari tulisan sebelumnya tentang pencapaian saya menyelesaikan [marathon] di Borobudur Marathon pada November tahun lalu. Saya pisahkan ceritanya karena saya kira bisa jadi kisah sendiri.

Kenapa Ingin Menyelesaikan Marathon?

Ada yang karena ingin sehat, mereka memutuskan lari lagi. Mulai dari lomba 5 km. Kemudian naik 10km. Lanjut ikut lomba 21 km. Hingga sambung menyambung menjadi jarak marathon. Ingin sehat termasuk salah satu alasan saya.

Motivasi orang ikut marathon banyak macamnya. Ada yang ingin mengumpulkan medali dan kaos penuntas marathon. Ada yang ingin mengumpulkan dan berbagi foto senyumnya di garis akhir marathon. Ada yang mengumpulkan rekor jadi penuntas berbagai marathon di bumi. Ada yang ingin paling banyak menuntaskan marathon dalam sejarah manusia. Bahkan, ada yang seperti kena racun marathon, tiap ada marathon atau event lari pasti ikut. Ada yang ingin mencari jodoh lewat marathon. Saya kira mereka akan jadi pasangan yang sehat.

Saya kira semua alasan itu sah saja, sepanjang memang benar-benar menuntaskan marathon pakai kaki. Selama fisik didukung oleh latihan dan proses yang benar. Kalau mencatatkan sebagai penuntas marathon, ada bukti waktu selesainya, tapi diangkut ambulan hingga mendekati garis akhir, lalu sebenarnya apa tujuan seseorang ikut marathon? Bila tak mampu mengarungi marathon, maka jangan ikut. Bila tak mampu menyelesaikan karena suatu hal, cedera, kondisi fisik menurun, atau hal lain, ya sudah maklumi saja. Marathon bisa diulang pada waktu dan di tempat lain.

Apa penting dianggap bisa selesai marathon, tapi tidak merasakan pengalaman marathon?

Wabah lari yang sedang musiman saat ini. Banyak motivasi yang salah untuk menyelesaikan jarak marathon. Akhirnya, demi melangkah di garis finish, etika dilangkahi, atau lebih ekstrem lagi membahayakan fisik sendiri—yang bisa berakibat cedera ringan atau fatal hingga meninggal. Ingat, marathon itu jarak sangat jauh, bila tidak dibilang ekstrem, ada proses dan persiapannya.

Alasan saya menyelesaikan marathon karena saya ingin merayakan kenyataan bahwa saya bisa lari setelah 35 tahun hidup saya. Hingga remaja, saya selalu mempertanyakan kenapa fisik saya begitu lemah, bahkan mengejar cewek-cewek paling lambat pun saya tak kuat. Di masa sekolah dasar dan menengah, saya tak pernah percaya diri menghadapi kegiatan olahraga. Kegiatan yang saya benci. Bahkan ada beberapa julukan yang sudah berusaha saya lupakan selama ini. Saya bisa lari. Ternyata lari itu ada macam dan caranya. Endurance atau daya tahan bisa dibangun. Kecepatan, saya kira bisa dilatih.

Saya ingin membuktikan pada diri saya, apakah dengan latihan rutin nanti saya mampu menuntaskan marathon. Setelah latihan, saya bisa menuntaskan marathon pertama tanpa cedera berarti.

Persiapan

Saya tidak main-main sebelum memutuskan mendaftar marathon ini. Taruhannya kesehatan badan, kaki, dan nyawa saya sendiri. Tanpa persiapan serius, bisa saja seseorang cedera (kram, kram perut, atau jaringan kaki/badan lain rusak), bahkan bisa mengakibatkan pingsan dan kematian kalau terkena heat-stroke.

Setelah tahu bisa lari sekitar 1 km-an, barulah saya memulai menaikkan kemampuan daya tahan berlari saya.

Saya perlu 11 bulan latihan sebelum ikut marathon pertama ini. Itu pun bertahap. Selesai latihan 5 km dua kali, total 4 bulan. Selesai latihan 10 km dua kali, total 3 bulan. Latihan marathon sendiri 4 bulan.

Sebagai bekal, saya baca buku panduan latihan marathon untuk bukan pelari karya David Whitsett dkk., The Non-Runner's Marathon Trainer. Dua buku lain yang saya baca adalah Meb for Mortals karya Meb Keflezighi, juara Boston Marathon di usianya yang ke-39; satunya adalah Marathon: The Ultimate Training Guide karya Hal Highdon, pelatih dan mantan pelari marathon tim Olimpiade A.S. yang telah berlari 100 marathon di usianya yang ke-70.

Saya latihan selama 4 bulan, dengan mengarungi jalan raya lebih dari 515,5 km.

Target saya menyelesaikan tuntas marathon sejauh 42,195 km tanpa cedera. Tidak ada target waktu, apalagi podium. Saya sadar diri. Ini adalah tujuan yang realistis. Bila saya ingin mengejar waktu, tak ayal selama latihan saya akan menambah konsentrasi untuk fokus pada kecepatan. Bila fokus pada kecepatan, hal itu bakal menambah latihan fisik ke arah kecepatan. Padahal jenis latihan seperti itu bakal bisa mengundang potensi cedera. Maka, ya, marathon pertama, fokus tuntas. Itu saja.

Hingga usai marathon, pikiran masih terombang-ambing, bahkan sempat timbul perasaan sesal karena tidak bisa menuntaskan marathon di bawah batas waktu lomba. Tapi kemudian saya kembali berpikir tentang tujuan awal, bahwa dari awal target adalah selesai marathon tanpa cedera. Dengan berpikir seperti itu, saya sukses. Sukses besar.

Saya yakin bila ada kesempatan dan waktu lagi untuk mencoba marathon lain, dengan latihan sungguh-sungguh saya akan mampu selesai lebih cepat.

Memahami Diri Sendiri

Lari mengubah banyak hal dalam hidup saya. Misalnya, saya sudah tak pernah sakit punggung lagi. Berat badan saya turun 5 kg selama latihan. Meski sempat turun jauh lebih banyak, tapi berat saya kembali ke angka saat ini, masih di bawah batas indeks masa tubuh normal saya. Bedanya, badan saya rasanya lebih kecil, tapi berat badan normal. Otot, terutama kaki, tangan, dan pundak, rasanya jauh lebih berisi.

Latihan lari memaksa saya agar tertib istirahat, 7-8 jam sehari. Bila jatah tidur kurang, gula dalam darah cenderung rendah, bisa kacau seharian itu. Risiko paling parah malah tak bisa latihan lagi.

Selama latihan dan marathon, saya lebih memahami diri saya. Tentang batas dan kemampuan saya. Tentang kondisi tapak kaki kiri saya yang rata, berbeda dengan yang kanan, juga tentang arah jatuhnya mereka yang berbeda. Kondisi kaki yang punya pronasi lebih, yaitu jatuhnya hentakan lebih ke dalam, membutuhkan perlakuan dan sepatu khusus. Saya sudah mencoba sepatu khusus stabilitas, hal itu membantu dan mengurangi nyeri setelah lari jarak jauh. Bahkan setelah marathon lalu sakit ini tak ada. Tapi kadang nyerinya masih terasa. Saya masih harus mempelajari kondisi kaki ini lebih jauh.

Marathon juga tentang menjaga asupan makanan. Pola diet pelari lebih banyak karbohidrat. Karbo tinggi dimaksudkan untuk menabung glycogen guna tenaga selama jarak jauh serta untuk membangun otot. Marathon juga mengharuskan kita disiplin tentang hidrasi, asupan air minum. Tanpa asupan yang cukup, kram akan mudah menyerang.

Dan, yang paling di atas semua itu, maratahon adalah tentang mental. Tentang membangun pandangan yang positif akan dunia. Tentang tidak mudah menyerah. Tentang disiplin latihan, disiplin menjaga kecepatan, disiplin minum dan menjaga makanan di tiap pos minum, dan konsentrasi.

Daya Tahan (Endurance)

Puncaknya tentu saja, marathon adalah menguji daya tahan tubuh. Menguji daya tahan mental. Menguji segala hal menghadapi kesakitan, kelelahan, panas, dan jauhnya jarak.

Menyelesaikan marathon itu sederhana, kita hanya perlu menempuh kilometer demi kilometer sehingga seluruh jarak tercapai. Untuk menempuh jarak sejauh 42 km tentu perlu latihan fisik agar daya tahannya lebih kuat.

Seperti cerita di awal, saya sengaja mulai lari dari deretan belakang. Saya tak tergoda sekali pun untuk menambah kecepatan. Saya tahu taruhannya cedera. Atau, bisa saja saya tak mampu menyelesaikan marathon karena kehabisan tenaga. Saya tak mau mempertaruhkan latihan saya. Selain itu, ketika menghadapi kilometer-kilometer akhir, kadang terbersit untuk mengakhiri ini semua dan diangkut ambulan saja. Itulah perlunya daya tahan mental dalam marathon.

IMG_1277

Hingga bulan kedua 2017, ketika memandang medali di dinding itu, begitu banyak kenangan berkelebat dalam pikiran saya. Masa-masa latihan. Perjuangan mencapai kilometer pertama. Panas menyengat. Kaki yang harus tertatih mendorong badan hingga ke garis finish. Juga banyak pelajaran yang saya dapat sepanjang latihan dan sepanjang lomba. Menyelesaikan marathon adalah pengalaman yang berharga bagi saya.