Arif Widianto

Mudik, Memuaskan Rindu?

Saya bersyukur mudik kemarin lancar dan aman, meskipun capek. Tapi setiap mudik memang capek bukan?

Saya juga sangat bersyukur akhirnya bisa kembali ke Jakarta, meskipun sangat capek. Tapi, biarlah badan serasa remuk, kembali ke Jakarta dari mudik selalu menyenangkan bukan?

Itulah dilema generasi mudik. Dilema kaum urban a la Indonesia.

Banyak yang percaya, sekarang adalah era pemasaran ide. Setiap pekerjaan seyogyanya saling menjual ide, ide, dan ide. Ya, ide ini bisa juga berarti citra (image kalau dalam bahasa Inggris).

Nah, kenapa di era pemasaran ide ini, mudik tidak bisa beralih menjadi budaya lain yang lebih efisien dan praktis. Bukankah mudik hanya ide tentang rindu?

Kalau anda tukang penjual di perusahaan, mungkin Anda masih mau melanjutkan baca ocehan ini. Menurut saya, setiap pekerjaan seyogyanya adalah menjual ide. Seorang akuntan menjual ide tentang kepercayaan finansial. Seorang desainer menjual ide akan identitas. Seorang programmer seperti saya menjual ide tentang efisiensi. Seorang pemasar menjual ide tentang ide.

Coba saja, kebanyakan orang saat ini bekerja di belakang komputer, dengan spesifikasi hardware yang kurang lebih sama, mereka mengerjakan banyak hal yang berbeda. Kok bisa? Lalu Anda bertanya, apa yang mereka hasilkan? Mereka bekerja untuk sebuah atau beberapa dokumen dan data, yaitu ide-ide yang mengambil rupa sebagai presentasi, laporan, dan layanan.

Bagaimana dengan orang-orang yang bekerja di sektor fisik, seperti konstruksi, pertanian, dan seterusnya? Mereka juga bekerja untuk ide: kenyamanan (konstruksi), kemakmuran (pertanian), dan seterusnya. Pada dasarnya, saya percaya semua bekerja menjual ide.

Oke… setelah tadi kita berkelana dengan alam ide. Mari kembali ke topik yang kita awali tadi, kenapa di era pemasaran ide ini, mudik tidak bisa beralih menjadi budaya lain yang lebih efisien dan praktis. Bukankah mudik hanya ide tentang rindu?

Yang benar saja, pasti demikian Anda berpikir….

Tak peduli apa pun pekerjaan dan jabatannya, hampir seluruh rakyat Indonesia mudik. Apa sih yang membedakan mudik dengan liburan biasa? Setiap orang perlu liburan, juga kembali ke daerah asal. Tapi mudik hanya terjadi dalam satu waktu, dan terjadi secara massal. Mudik juga fenomena lintas agama, banyak sodara beragama lain ikut mudik karena setiap orang Islam di daerah mereka juga mudik. Kampung ramai, jadi sayang melewatkan kesempatan itu.

Tapi, apa yang terjadi ketika mudik? Ketika setiap orang pulang kampung dengan berbagai moda transportasi tadi. Demikian pula uang-uang mereka. Western Union Cirebon saja dilaporkan terjadi transaksi sebanyak Rp3,5 miliar/hari pada hari-hari lebaran lalu. PT Pos mencatat terjadi transaksi wesel hampir Rp100 juta per hari ketika lebaran ini. Begitulah para pembantu rumah tangga, kuli-kuli, buruh, dan banyak pekerja kecil lain mudik. Bahkan para pemulung pun mudik. Bagaimana dengan pekerja formal, tentu uang yang dikirim lebih dahsyat lagi bukan? Industri transportasi mendapat berkah. Perdagangan berputar naik drastis.

Selain itu apa lagi yang digambarkan mudik?

Kalau kita jeli dan berpikir usil, mudik juga menjual ide tentang identitas. Kesuksesan. Kemakmuran. Kebahagian. Apa pun lah namanya. Tapi saya juga mencatat, banyak ide tadi sebenarnya bermuka dua. Parahnya, muka ini punya wajah buruk, seperti pamer. Pamer baju-sendal-sarung-perhiasan baru. Mobil baru. Pekerjaan baru. Proyek sukses yang ditandai oleh gemuknya badan Anda. Cantiknya istri Anda dengan kosmetik “kota” yang makin membuat mulus, dan seterusnya.

Ketika ada tetangga menangis sesenggukan saat anaknya tidak bisa mudik, apakah yang sesungguhnya ia tangisi? Apakah ia tidak bisa memuaskan rindunya? Ataukah, mohon maaf, apakah ia gagal menunjukkan pada orang lain bahwa anaknya telah sukses? Atau, justru apakah ia berpikir bahwa orang lain pasti menyangka anaknya tidak berbakti karena tidak mudik?

Setelah semua bersalaman lebaran, setelah semua saling berkunjung, setelah saling menunjukkan identitas tadi, apakah itu saja tujuan mudik? Yang perlu dilihat adalah kejadian setelah itu, dalam silaturrahmi yang seharusnya indah itulah ide-ide kesuksesan dijual dan diprovokasi kepada setiap orang, dipertukarkan, membakar sanubari sekian generasi tua dan muda. Yang tua memprovokasi yang muda agar sukses dan menanyakan kenapa mereka tidak sesukses tetangganya. Yang muda makin berambisi melihat kesuksesan itu, dan tertarik untuk mengejarnya. Dan kita melihat ini semua bukan? Kita akhirnya buta.

Saat inilah saya ingin mengingatkan Anda akan efek buruk mudik. Saya tidak ingin menakuti-nakuti. Tapi inilah yang kira-kira saya lihat, inilah yang ingin saya tawarkan pada Anda dengan tulisan panjang lebar dan ngelantur ini.

Menurut saya, mudik menjual ide buruk tentang kerakusan material. Ketika setiap orang ditodong untuk: kaya, sukses, makmur, cantik, ganteng, gemuk; ketika itulah mereka berpikir untuk meraih semua identitas tadi, dengan berbagai cara tentunya. Ada yang jalan normal. Ada pun jalan pintas, dan banyak pula ambil jalan gelap. Tapi itulah yang terjadi. Itulah hasil budaya urban a la Indonesia.

Lebih-lebih pada budaya urban yang massal seperti mudik. Seperti efek massif yang dibawa media massa, efek pesan yang dibawa oleh berjuta orang ini, tentu saja pembawa sebuah pesan yang sangat sukses! Coba saja, mungkin lebih separuh aktivitas ekonomi di negeri macet ketika setiap orang mudik!

Artinya, setiap orang ingin mengusung identitas tadi. Setiap orang beresiko mengidap sindrom mudik yang buruk tadi.

Jadi, apakah budaya mudik bisa diganti? Hampir setiap orang yang punya kesempatan pulang kampung juga ikut mudik. Tak peduli jarak dan jauhnya. Tapi kebanyakan pemudik memang jarang pulang kampung. HANYA PADA MUDIK ITULAH KESEMPATAN MEREKA PULANG KAMPUNG DAN MEREKA RELA MENABUNG SETAHUN UNTUK KESEMPATAN ITU.

Kalau ketika kita melihat akar korupsi di negeri ini, tidak peduli pegawai negeri, swasta, militer, polisi. Beranikah kita mengakui efek korupsi yang beranak pinak dalam generasi Indonesia itu mungkin disumbangkan oleh budaya mudik? Wallahu a’lam, siapa sih yang bisa melakukan penelitian yang bisa mengaitkan hal-hal di atas tadi.

Kesimpulannya, apakah mudik itu kegiatan untuk memuaskan ide akan kerinduan ataukan ide-ide buruk yang saya ungkap tadi? Anda tentu tahu jawabannya….