Arif Widianto

Ramping dan Seksi

Menulis, apalagi menulis untuk blog, adalah pekerjaan gampang, tapi juga susah. Pekerjaan ringan, tapi melelahkan.

Bagi saya, menulis adalah pekerjaan ketika ide berpendar di kepala botak ini. Setelah nyalain komputer, ketik-ketik, tak kurang sepuluh menit 1000 karakter tertulis di layar. Ini belum diedit, dan begitulah biasanya saya menulis blog ini.

Instan. Impulsif. Tapi semua tahu, yang moody dan reaksioner seperti ini menyenangkan, tapi juga punya sisi buruk. Sering macet, sering mogok menulis. Hiatus.

Saya bisa menulis sebebas saya, karena ini media punya sendiri. Saya bisa tidak menulis atau libur, karena ini publikasi sendiri. Bila blog saya ingin sukses, kalau Anda seperti saya yang terlalu serius menanggapi sesuatunya, saya pikir saya harus merombak gaya menulis ini.

Kalau saya menulis dengan apa adanya, tak teredit, impulsif, semua terkendali dari keinginan saja. Padahal, tiap hari saya bepikir, tiap hari saya punya ide yang cemerlang (kalau narsisme sedang kambuh). Jadi, sangat tidak masuk akal saya tidak menuliskan sesuatu tiap hari. Saya berkesimpulan, gaya menulis harus diubah. Mode penerbitan harus diperbaiki. Mungkin saya bisa mencapai jumlah publikasi yang lebih banyak. Blog tentu lebih bermutu.

Tulisan-tulisan panjang belum tentu bagus. Tulisan yang sederhana dan mengena, itulah yang tepat, tapi juga sulit untuk diproduksi.

Cobalah baca karya Pram. Lihatlah kata-katanya. Pendek. Padat. Ringkas. Kata-katanya sederhana. Dan banyak tanda titik. Saya? Tulisan saya terlalu banyak tanda koma, seperti kata ini, dan ini melelahkan bagi pembaca. (Saya ketahui setelah membaca ulang tulisan di blog ini. Oh, ternyata melelahkan!!)

Cobalah baca Caping Goenawan Mohammad. Lihatlah kata-katanya. Kalimat aktif. Satu dua kata. Ramping. Seksi. Kalau mengutip komentar Pram dalam sampul Saman-nya Ayu Utami, kata-katanya jadi menyala.

Cobalah baca karya O. Henry. Cerpenis Amerika yang saya sukai karena realismenya. Pendek. Banyak kalimat aktif. Tautan katanya jadi kalimat indah. Kalimat-kalimat menyambung jadi gambaran nyata. Ah.

Saya bukan penulis profesional. Saya seorang yang belajar menulis. Tulisan ini bukan saya maksudkan untuk mengajarkan gaya penulisan. Tulisan ini untuk saya sendiri. Tapi mungkin berguna bila diterbitkan.

Ada cerita lama. Pada 1997-1999, entah kapan tepatnya. Saya membaca tulisan pendek karya Hernowo, redaksi penerbit Mizan. Judulnya, kalau tidak salah Plong. Saya sudah cari di arsip internet tapi belum ketemu. Dalam tulisan pendek itu, Hernowo menulis: baca, baca, baca, dan tulis. Jurus singkat menulis. Membaca terus tanpa ditulis seperti memaksa makan meski sudah kenyang. Menulis tanpa bacaan cukup akan terasa kurang berwarna.

Menulis itu mudah. Tapi membuat tulisan yang bermutu, indah, dan bermakna, mungkin perlu proses dan belajar lebih lama.

Menulis adalah bekerja keras. Harus telaten. Perlu kesabaran.

Hari ini saya tahu, ramping dan seksi. Di situlah kata-kata akan menjadi makna yang indah.