Arif Widianto

Sakit

Negara telah sakit. Tatanan kita telah sakit.

Tentang Sakit. Inilah film terbaru karya Michael Moore yang saya tonton kemarin. Tentu saja berkat DVD bajakan. Film dokumenter macam ini mana mungkin bakal dimuat di bioskop kita. Hebatnya, konon film ini adalah film dokumenter dengan kocek terbesar memecahkan rekor film sebelumnya, juga karya Moore.

Film ini bercerita tentang orang-orang yang sakit, orang yang akan sakit, dan bagaiman orang sakit diperlukan oleh sebuah sistem sakit dalam memandang kesakitan orang.

Apa sih menariknya Moore, gendut, sengak begitu? Bikin film tentang sakit lagi??

Sakit (SiCKO) yang menjadi judul film ini bukan melulu berarti badan yang sakit, tetapi bisa pula diparodikan sebagai “Psycho”, orang yang “sakit” alias kurang waras. Ketidakwarasan ini digambarkan oleh Moore telah menggerogoti seluruh nasib bangsa besar seperti di Amerika Serikat (AS).

Konon, menurut penggambaran Moore, AS tidak peduli kepada bangsanya sendiri dan hanya mendahulukan kebijakan yang pro-pengusaha dan industri asuransi kesehatan. Akibatnya, semakin banyak korban berjatuhan, rakyat kecil yang tidak mendapat perlindungan kesehatan hanya karena sebuah masalah sederhana: SETIAP PERUSAHAAN ASURANSI sering MENOLAK KLAIM.

Lima puluh juta rakyat AS, menurut Moore, katanya tidak mempunyai asuransi. Tetapi kisah film ini bukan tentang hanya mereka. Tetapi juga tentang mereka yang mempunyai asuransi tetapi banyak yang ditolak klaimnya.

Kisah dimulai ketika Moore menemui seorang pekerja kasar yang pernah mengalami kecelakaan, dua jari tangannya terpotong. Ketika akan diobati, ia harus memilih antara jari tengah ($60,000) atau jari manis ($12,000). Demi kenangan manis, agar cincin kawinnya mendapat tempat yang tepat, ia memilih jari manis.

Begitu pula nasib banyak orang lainnya. Orang sangat miskin (gelandangan?) yang dikeluarkan dari rumah sakit. Ibu yang kehilangan suaminya gara-gara keputusan sepihak asuransi yang tiba-tiba membatalkan jaminan klaim, entah karena fakta apa. Ibu yang kehilangan anaknya, juga karena klaim yang tiba-tiba batal. Dan seterusnya. Tragis. Sakit.

Saya jadi terkejut. Mereka punya polis asuransi dan jelas-jelas melindungi berbagai penyakit yang ada. Tapi kenyataan tidak demikian. Menurut pengakuan seorang mantan tukang eksekusi pihak asuransi, mereka akan mencari segenap cara dan kelemahan agar asuransi tidak jadi menyetujui klaim yang masuk. Kesalahan minor seperti salah isi biodata, salah centang pertanyaan, bisa berakibat fatal seperti itu. Dan, menurut Moore, ada pula daftar puluhan (atau ratusan) daftar penyakit yang tidak dapat dikabulkan klaimnya. (Mereka punya panduan, SOP, untuk menangani setiap klaim yang masuk beserta respon standar, dan stempel wakil direkturnya. Doi ngaku sendiri di pengadilan!). Vonis standar bagi setiap klaim, tentu saja TOLAK!

(BTW: Ingat cerita Pelican Brief karya John Grisham yang versi filmnya dimainkan artis cantik Julia Roberts kan? Oh ya, juga Erin Brockovich, Julia Roberts pula!)

Kemudian kita diajak Moore berkunjung ke Kanada. Seorang yang sakit gara-gara main golf datang ke rumah sakit, lalu diobati dan beres. Gratis! Bahkan, ada pula orang Amerika pinggiran yang menyeberang ke Kanada, lalu mengaku sebagai “teman” (entah suami/istri sementara), agar mendapatkan pengobatan gratis di Kanada.

Lalu, Moore mengajak kita jalan-jalan melihat rumah sakit di Inggris. Di sana ia berbicara dengan beberapa pasien yang baru keluar dari rumah sakit. Ada suami-istri yang baru keluar (istrinya baru melahirkan), Moore bertanya kepada mereka, “Berapa biaya untuk semuanya?” Mereka bingung, lalu tertawa. “Biaya apa, semuanya gratis!” Ia kemudian bertanya pada beberapa pasien, jawaban mereka memang sama. Ajaib!

Sangat penasaran, ia kemudian berusaha mencari apakah ada bagian yang bertugas menagih pasien. Ia tidak menemukannya. Hanya ada sebuah loket bertuliskan kasir, tetapi kemudian ia tahu bahwa mereka bertugas memberi uang bagi pasien UGD untuk jalan pulang.

Begitu pula di Perancis. Bahkan, di sana ia mengikuti sebuah layanan kesehatan 24 jam yang menerima panggilan dari rumah. Juga gratis. Ada pula layanan laundry gratis yang disediakan oleh pemerintah bagi ibu baru melahirkan.

Untuk perlakuan terhadap ibu baru melahirkan, Eropa memang patut diacungi jempol. Bahkan di Norwegia, ibu baru melahirkan mendapat hak cuti penuh 1 tahun dengan gaji 80% (atau 10 bulan dengan gaji 100%) agar setiap anak mendapat asuhan ibu yang sempurna.

Kembali ke AS, Moore menemui beberapa orang mantan relawan pemadam kebakaran dan relawan lain dalam kejadian 9/11. Banyak dari meeka menderita sakit parah, entah pernapasan, atau paru-paru. Tragisnya, mereka tidak dapat mengobati karena selalu ditolak oleh pihak asuransi.

Kepada relawan itu, Moore kemudian mengajak mereka berkunjung ke Guantanamo, Kuba, tempat banyak teroris ditahan. Menurut dokumentasi televisi, tahanan di sini mendapat layanan kesehatan yang sempurna, dan tersedia secara gratis. Kata Moore, “Ah, setidaknya ada satu tanah Amerika yang gratis.”

Tapi ia gagal juga mendapat hak masuk di sana. Emangnya mereka tahanan, Moore?

Putus asa, para relawan yang sakit-sakitan itu dia ajak keliling Kuba, negara yang kita kenal pemimpinnya dibenci oleh Presiden AS turun-temurun itu. Sampailah mereka di rumah sakit setempat. Setelah mengungkapkan niat mereka, mereka ditanya nama dan umur. Lalu, seperti di negeri dongeng, apa ini juga dongeng saya tidak tahu, tanpa ditanya apakah mereka mempunyai polis asuransi atau tidak, mereka langsung mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan. Ah indahnya.

Konon, AS menurut ceritanya, sungguh takut dengan kebijakan yang mereka sebut socialized health system, ya alasannya biar tidak sosialis, komunis, atau apa lah, yang konon kualitas kesehatan nanti jelek. Padahal, Kanada, Perancis, dan Inggris, semua menganutnya dan kualitasnya siap berani bilang jelek? Kesejahteraan dokter, yang dilukiskan Moore dengan mewancarai seorang dokter di Inggris dan Perancis juga terjamin.

Ah, mungkin AS memang sedang sakit kali ini.