Arif Widianto

Satu Dekade

Di depan Taman Ismail Marzuki, di bawah baliho besar agenda TIM di pinggir jalan. Aku sudah mengantuk sekali sore itu. Aku pesan kopi hitam yang manis dari penjual keliling. Kopi bergelas plastik air kemasan. Kopi itu mungkin bisa menendang kantuk dari kepalaku. Sebab aku ingin mengajaknya bicara. Dia duduk di sampingku, di undakan gerbang masuk TIM itu. Dia juga pesan kopi. Kami minum kopi berdua.

Aku sudah berkenalan beberapa bulan dengan gadis itu. Entah dari topik apa bermula, aku lalu mengajaknya menikah. Aku benar-benar ingin menikah dengannya. Lalu kami naik bus P-20 jurusan Senen-Lebakbulus. Aku mau antar dia pulang ke rumah kakaknya di daerah Tangerang. Kami mantapkan rencana menikah sambil tetap waspada jaga dompet di bus yang terkenal banyak copet itu.

Beberapa minggu kemudian, aku ajak dia ke orang tuaku. Lalu minggu berikutnya aku ikut ke orang tuanya. Di sana ayahku juga datang pada hari itu. Kapan nikahnya? Berapa lama lagi? Itulah hal yang harus kami jawab hari itu.

Kami berdua ingin pernikahan sederhana. Yang penting nikah hehehe... Sudah ngebet :)

Kami berdua tidak berniat menggelar resepsi atau menyebar undangan, tapi kami cari hari libur supaya agak bebas dan longgar. Siapa tahu ada kawan yang datang dari jauh, agar mereka longgar waktunya. Kami tengok kalender di dinding. Saat itu awal April 2005. Kami balik kalender ke bulan berikutnya. Kami lihat ada tanggal merah di hari Kamis itu, 5 Mei 2005. Kami tak pernah berpikir bahwa tanggal hari kami menikah sungguh unik sampai ada teman mengatakan bahwa kami sengaja memilih menikah pada 05-05-05.

Dua anak, Sofia dan Sonia, hadir dalam 10 tahun itu. Kebahagian. Senyuman. Marahan. Baikan. Obrolan. Diskusi. Kompromi. Kerjasama. Tawa. Tangis. Bocah. Ompol. Perjalanan. Kerja. Lembur...... dan kopi.

Satu dekade ini ternyata kami tetap menyeruput kopi berdua.

Seperti pagi ini, saya memulai hari dengan menggiling kopi buat dua cangkir. Saya bikin kopi paling awal. Selalu begitu. Biasanya saya minum kopi pahit. Tapi kadang saya tambah bubuk krim, gula merah, atau variasi lain, seperti: madu, es krim vanila, jahe, coklat, kayu manis, dan entah apa. Dia sering mencicipi kopi saya, kalau itu bukan edisi pahit. Masih pahit, katanya. Lalu kalau dia bikin kopi, saya juga ikut mencicipinya. Terlalu manis, sering begitu komentar saya.

Perjalanan satu dekade pernikahan kami ini mungkin seperti kopi yang sering kami nikmati berdua. Kalau saya jalani sendiri, tentu perjalanan ini sering pahit. Tapi karena dirimu, istriku, akhirnya perjalanan itu selalu manis. Saya bahagia bisa mempunyai rekanan perjalanan yang selalu antusias untuk mengarungi perjalanan kami berikutnya. Serta tentu saja beberapa cangkir kopi lainnya untuk diminum berdua.