Arif Widianto

Sebuah Awal

Tiga puluh tiga tahun. Satu anak. Cukup satu istri. Selama berkeluarga, telah menempati empat rumah—di tiga lokasi berbeda.
Bekerja kantoran selama delapan tahun di enam kantor yang berbeda. Bekerja mandiri selama enam tahun terakhir. Berbagai sektor dan lembaga. Telekomunikasi, media, IT, dan LSM.

Dan, inilah saya, kembali ke sebuah awal baru.

Enam tahun lalu, di awal yang dahulu, saya bermimpi bisa bekerja di rumah. Alhamdulillah, berkat rahmat Tuhan yang pemurah, mimpi-mimpi tersebut terwujud. Bahkan sudah enam tahun tak terasa kami menjalaninya. Saya saat ini adalah yang saya cita-citakan enam tahun lalu. Seperti sebuah mimpi ternyata saya bisa melakoninya. Bahkan dengan berbagai rezeki, kami sekeluarga bisa dengan leluasa mencoba mempersiapkan mimpi-mimpi kami yang lain.

Sekarang, kembali ke awal baru. Sebenarnya saya mulai menggelar mimpi ini tahun lalu, jadi mungkin tepat lima tahun sudah. Tapi ternyata kondisi dan kesempatan belum memperbolehkan. Sesuatu yang baru itu adalah Digdaya. Satu lainnya adalah kecintaan pada dunia investasi.

PT Digdaya dibesut akhir 2010 tapi baru berdiri resmi awal 2011. Kantor pusat dan administrasi di Jakarta tapi kami merencanakan pengembangan di kota Jepara. Digdaya didirikan oleh mas Jack dan saya. Kami kenal dari TopCoder. Awalnya kami berkompetisi. Kemudian kami berniat untuk menyambung kolaborasi kami, maka jadilah Digdaya. Kita akan bekerja lintas daerah. Tapi karena ada kesibukan keluarga (maaf ya mas Jack!), akhirnya baru pertengahan tahun ini kami baru bisa serius melanjutkan pengembangan Digdaya. Apakah bisa melaksanakan perusahaan seperti ini? Di tempat yang—terpencil seperti Jepara? Kami tak punya jawaban yang pasti. Saya juga tidak tahu apa saya akan bisa membawa Digdaya berhasil di kota baru ini. Tapi semua perlu dicoba. Saya percaya para pebisnis sukses akan selalu mencoba dulu, mencoba mencari keuntungan sejak hari pertama. Inilah sesuatu yang baru, yang mungkin bisa menjadi masa depan kami. Akan jadi apa Digdaya lima tahun yang akan datang? Biar waktu yang mengantarkan kita ke sana.

Hal lain yang baru—meski sesungguhnya lama karena saya telah menjalankan sejak akhir 2010—yaitu investasi. Saya dan keluarga sejak 2010 telah menjalankan program investasi swakelola di instrumen saham. Saya sendiri manajer investasinya. Proses belajar investasi saham ini telah lama, sejak 2008. Namanya investasi (dan bukan spekulasi), saya tidak mau rugi sejak hari pertama. Maka saya luangkan waktu untuk belajar sebelum benar-benar terjun ke sana. Meski sudah ada banyak kesibukan, syukurlah masih ada waktu untuk meriset perusahaan, mencari emiten terbaik untuk tempat investasi dana jangka panjang keluarga kami. Syukurlah, bisa dibilang kami tidak terjebak atau rugi. Dana kelolaan hingga saat ini sudah tumbuh cukup baik, potensi untung sekitar 100% untuk waktu hampir dua tahun. Tidak buruk lah. Sepertinya semua berjalan baik. Tapi saya menganggap ini adalah sesuatu yang baru. Biar waktu yang bisa membuktikan bagaimana investasi kita di masa yang panjang nanti.

Saya tidak takut menapaki sebuah titik awal baru. Betapa tidak, melihat awal enam tahun lalu, dengan berbagai mimpi, kini saya tersenyum. Mungkin dulu haya ilusi. Tapi kalau kita percaya dengan awal yang kita jalani dengan sungguh-sungguh, mungkin semuanya bukan mimpi saja. Saya bisa melihatnya saat ini.