Arif Widianto

Tidak Sekolah

Salah satu tahapan penting sebagai orang tua adalah keputusan dalam pendidikan anak. Keputusan yang sangat penting dan kritis. Dan karena keputusan ini berhubungan erat dengan masa depan anak, istri saya dan saya sangat serius menyikapi tantangan pendidikan bagi putri kami. Sangat serius. Sungguh. Serius. Inilah cerita kami memilih tidak-sekolah.

Pendidikan di Indonesia

Saya tidak bermaksud lebih paham situasi pendidikan Indonesia. Ada banyak ahli yang bisa menjelaskannya dengan canggih. Tapi saya coba ringkas situasi pendidikan di tanah air, menurut pandangan saya:

  • Anak diajar baca, tulis, dan menghitung sejak di taman bermain dan taman kanak-kanak. Bayangkan, taman bermain! Sudah diajari membaca, menulis, dan menghitung. Apa bisa paham? Banyak yang pusing sepertinya. Banyak. Hal ini terjadi di kota hingga kampung. Bayangkan anak usia tiga tahun harus membaca dan menulis. Kasihan yang tidak bisa lalu dicap jadi anak bodoh. Dalam topik ini, ijinkan saya promosi, istri saya telah menulis uneg-unegnya di: Mengapa Anak TK Tak Boleh Diajari Calistung, meskipun tulisan itu telah dibaca ratusan ribu kali. Semoga tulisannya itu bisa menyadarkan banyak orang bahwa tidak ada pentingnya anak bisa baca, tulis, dan menghitung di TK sementara nanti ketika dewasa mereka tidak bisa berdialektika.
  • Prasyarat tidak tertulis untuk masuk Sekolah Dasar (SD) harus bisa baca, tulis, dan menghitung. Hal ini menyebabkan lingkaran setan dengan hal pertama tadi. Ditambah kekonyolan dan ambisi banyak orang tua berlomba agar anak mereka dianggap paling pintar dengan lomba peringkat.
  • Beban pengajaran sangat berat. Ini terjadi di semua tingkat. Banyak pekerjaan rumah (PR). Banyak tugas. Ironinya tugasnya bukan semacam tugas apresiasi atau dialog, tapi tugas lembar jawaban yang bersifat benar-salah, pilihan, juga sedikit soal jawab teks. Jawabannya harus mirip buku. Saking beratnya, demi membantu anak bisa menghadapi beban itu, akhirnya berjamuran lembaga kursus dan les.
  • Kebijakan pelulusan siswa melalui skema bernama Ujian Nasional (UN). Terakhir saya dengar hal ini masih berlaku di SD, SMP, dan SMA. Mau tak mau konsentrasi sekolah adalah menghadapi masa genting ini. Bahkan kegiatan belajar-mengajar umumnya dihentikan di masa-masa mendekati UN. Siswa dilatih secara intensif untuk menghadapi UN yang dilaksanakan selama tiga hari atau lebih, tapi sangat menentukan kelulusan mereka. Siswa tidak lulus UN berarti harus mengulang tahun pelajaran. Siswa yang mengulang tentu akan malu. Orang tua juga malu. Bisa hancur mentalnya karena dianggap makhluk bodoh, sekolah aja harus mengulang. Bahkan ada yang bunuh diri. Ketidaklulusan juga mempengaruhi pengampu kebijakan pendidikan, risikonya kepala dinas bisa dimutasi ke luar daerah karena dianggap tidak becus membina pendidikan di daerahnya. Lingkar kepentingan semu untuk menaklukkan UN inilah yang akhirnya memaksa beberapa (dan mungkin mayoritas) pelaku pendidikan (pengampu, sekolah, siswa, dan orangtua) untuk merasionalisasi perbuatan curang, demi sebuah kelulusan. Masih ragu? Pada awal tahun 90-an, saya sudah membantu teman lain (dan menerima bantuan) secara curang, agar lulus. Di jaman ini, bisa saja Anda tidak curang, tapi anak Anda akan dianggap makhluk aneh yang tidak solider. Ini kepentingan bersama. Dunia yang konyol.
  • Banyak tragedi dan berbagai kasus fatal di sekolah. Tawuran, tidak terbilang lagi. Bullying, saya mengalaminya. Belum lagi kalau bicara kasus-kasus yang bisa dibilang ekstrem, maraknya siswa SD, SMP, SMA yang sudah membawa telpon seluler dengan perangkat rekam, hal ini membawa ekses fatal. Penyebaran video atau gambar porno, atau kejadian kekerasan itu, ada dan terjadi. Okelah, yang terakhir ini ekstrem, tapi kenyataan ini terjadi dan paling tidak sudah terjadi berulang.
  • Masa SMA, pertempuran mencari perguruan tinggi. Persaingannya sangat ketat. Mengundang stress. Dan jauh dari kesan "pergulatan ilmiah". Mungkin saya terlalu memukul rata. Tapi, cobalah jujur pada diri Anda sendiri.
  • Ketika kuliah, sifat pergulatan ilmiah dan kreativitas makin hilang. Sangat ironi ketika anak dipaksa bisa membaca di usia paling dini, tapi ketika masa perkuliahan semangat membaca itu hilang. Tak kurang mungkin karena pergulatan ilmiah dan diskusi ilmiah semakin berkurang. Siswa dipaksa menghadapi tugas, tugas dan tugas. Begitu pula sifat kreativitas dan penghargaan akan seni yang rendah. Belum lagi dalam menulis, semangat penulisan sangat rendah. Buktinya, banyak biro jasa layanan pembuatan skripsi dan tesis. Belum lagi kegiatan perploncoan dengan segudang kekerasan fisik, mental, dan juga (baru-baru ini) seksual.
  • Pendidikan berbiaya tinggi. Sekolah yang baik, konon pasti mahal. Tapi, tidak demikian juga. Untuk masuk sekolah bergengsi tanpa melalui saringan normal, orang tua bisa diminta untuk menyetor biaya yang lebih tinggi. Normal katanya. Maka tak heran ada biaya masuk SD puluhan juta. Masuk sekolah dokter atau kepolisian atau tentara juga ratusan juta.
  • Pendidikan adalah gengsi. Pendidikan adalah karir. Mungkin hal ini tidak terjadi di Indonesia saja. Dan tentu sah saja orang ingin mengambil ijazah untuk menunjang karirnya. Tapi yang menjadi aneh, cara yang diambil justru cara konyol, hingga ada intitusi yang memanipulasi ijazah sarjana dan pasca-sarjana, semua demi mengejar gengsi dan karir.
  • Birokrasi pendidikan yang absurd. Kurikulum yang sering berganti. Kebijakan yang makin jauh dari hal ilmiah. Maka tak heran banyak ahli yang justru memilih karir di luar negeri daripada menghadapi pelemahan moral di tanah air. Begitu pula di institusi pendidikan yang konon siap menampung alumni berprestasi yang sudah lulus dari kampus luar negeri, tapi ternyata setibanya di sini keilmuannya jauh tidak dihargai, tulisan di jurnal internasional yang tidak diakui karena alasan tidak ada di keputusan dinas XYZ. Atau mereka ditempatkan di institusi yang jauh dari keahliannya dan justru orang salah memimpin mereka. Semua yang berbau uang dan politik tampak jauh lebih disukai. Sungguh tak aneh, bukan?
  • Tambahan, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) telah mengevaluasi pengetahuan dan bakat anak berusia 15 tahun dari seluruh dunia melalui Programme for International Assessment (Pisa). Lebih dari 510.000 pelajar di 65 negara menjadi bagian tes terakhir mereka pada 2012 lalu, yang meliputi bidang matematika, membaca, dan sains. Hasil tes Pisa terakhir menunjukkan Indonesia di posisi ke-64, hanya satu tingkat di atas Peru dan di bawah negara-negara lainnya. Ini adalah bukti nyata bahwa apa pun usaha yang dilakukan sistem pendidikan formal di Indonesia, hasilnya jauh panggang dari api. Semua niat, usaha, dan biaya, ternyata sia-sia belaka.

Kenapa demikian? Carut marut pendidikan. Itulah kenyataan yang kita hadapi.

Mungkin Anda berpikiran sama dengan kami. Atau mungkin juga Anda tidak terlalu menganggapnya. Ya, saya sempat mengobrol dengan beberapa pelaku pendidikan, dan konon mereka tidak melihat masalah itu. Entahlah.

Kita bisa berharap ada perbaikan kondisi pendidikan formal di negeri ini di masa mendatang. Itu adalah kemungkinan. Itu adalah harapan. Sementara itu, beberapa hal yang sifatnya pasti sudah menunggu, dan itu adalah kepastian yang kurang menarik. Maka kami memilih menghindarinya.

Tidak-Sekolah

Kilas cepat, inilah situasi yang kami hadapi pada 2012 lalu. Anak pertama kami pada 2012 itu baru lepas TK di sebuah sekolah alam di daerah Ciputat. Karena kami pindah ke Jepara, kami berpikir untuk mencarikannya sekolah. Tapi kami belum menemukannya. Mungkin kami kurang keras berusaha mencarinya. Mungkin kami terlalu pilih-pilih. Tapi yang jelas, pada awal 2012 kami menemukan kepastian tentang pendidikan selain di sekolah. Dibilang alternatif, saya kira bukan. Saya kira ini adalah cara berpikir baru tentang pendidikan anak kami.

Kami menyebut langkah ini tidak-sekolah (unschooling). Dalam arti literal dan filosofis, memang tidak sekolah. (Saya menuliskannya dengan tanda penghubung untuk menekankan sifat hubungannya dalam satu kata, bukan dua kata, tidak-sekolah berbeda dengan tidak sekolah).

Ini adalah sebuah filosofi pendidikan yang menyediakan kebabasan dari metode pembelajaran lainnya, dan menyiapkan anak-anak untuk masa depan yang tidak tentu dan cepat berubah, daripada apa yang kita ketahui saat ini. Inti dan keindahan dari metode tidak-sekolah adalah pencarian akan jawaban. Jika kita punya semua jawaban, maka tidak akan ada pencarian. Dan itulah inti yang juga ingin kami bagi kepada orangtua dan anak-anak, pencarian itulah keindahan dari semuanya.

Lalu timbul banyak pertanyaan lanjutan, yang kebetulan sering kami hadapi pula, apa itu tidak sekolah? Kenapa kami melakukannya? Bagaimana kami melakukannya? Bagaimana di masa depan, ketika anak perlu mendapatkan ijazah untuk bekerja? Kita akan coba ulas itu semua.

Apa Itu Tidak-Sekolah?

Bentuknya memang mirip sekolah-di-rumah (homeschooling). Namun tidak ada jawaban mudah kecuali membandingkannya dengan sekolah biasa. Tidak ada satu jalan yang pasti untuk metode tidak-sekolah, dan orang yang melakukannya berkali-kali, misal untuk anak yang berbeda, bisa melakukannya dengan alasan yang berbeda dan cara yang berbeda.

Berikut apa yang dijelaskan oleh Leo Babauta tentang tidak-sekolah—secara kontras dibanding dengan sekolah pada umumnya:

  • Jika sekolah mempunyai kelas dengan topik-topik, metode tidak-sekolah tidak.
  • Jika sekolah punya target yang diatur oleh guru dan sistem sekolah, pelaku tidak-sekolah (siswa) mengatur sendiri targetnya
  • Di sekolah, pengetahuan diturunkan dari guru ke murid, dalam tidak-sekolah pelaku diberi kekuasaan untuk belajar untuk dirinya sendiri.
  • Ketika sekolah punya buku atau materi pembelajaran yang terpilih, pelaku tidak-sekolah bisa belajar dari apa saja: buku yang mereka temukan, hal-hal di internet, dari saudara atau orangtua, museum, orang yang bekerja di bidang yang disukai mereka, apa pun.
  • Ketika sekolah terstruktur, tidak-sekolah seperti musik jazz. Metode tidak-sekolah itu dinamis, dikerjakan fleksibel, mengikuti perubahan sebagai perubahan yang diinginkan siswa.
  • Ketika siswa di sekolah belajar untuk mengikuti perintah, pelaku tidak-sekolah belajar berpikir untuk mereka sendiri dan membuat keputusan mereka sendiri.
  • Ketika siswa di sekolah diminta untuk belajar dengan kecepatan tertentu yang diatur sistem atau administrasi sekolah, pelaku tidak-sekolah belajar dengan kecepatan yang mereka sukai.
  • Ketika di sekolah belajar terjadi di kelas pada waktu-waktu tertentu, pelaku tidak-sekolah belajar setiap saat, dan tidak ada pembagian antara kegiatan belajar dan kehidupan.

Jadi, kita tekankan lagi, dalam dunia tidak-sekolah, kehidupan itu adalah pembelajaran. Tidak ada yang bernama "sekolah", padahal kita belajar setiap saat.

Pelaku tidak-sekolah belajar seperti kita orang dewasa: berdasarkan apa yang menarik bagi mereka, memutuskan bagaimana mempelajarinya bagi mereka sendiri, berubah bila memang perlu berubah, menggunakan berbagai macam sumber daya dan materi pembelajaran yang bisa mereka temukan, semua dipicu oleh rasa ingin tahu dan aplikasi pragmatis alih-alih seseorang berkata bahwa ini penting untuk dipelajari.

Kenapa Tidak-Sekolah?

Alasan utama kami seperti sudah diulas di atas.

Dunia serba dinamis. Apa yang menurut kita penting saat ini, bisa berubah atau tidak berguna 10-15 tahun mendatang. Ketika sekolah saya mempelajari bahasa pemrograman Basic atau Pascal, hari ini Basic sudah tidak saya pakai lagi. Saya saat ini lebih banyak memakai Ruby, Objective-C, dan kadang-kadang Python. Dulu belajar pengunaan aplikasi Wordstar dan Lotus 1-2-3, sekarang sudah digantikan oleh Pages dan Numbers di paket iWork. Bahkan apa yang kita pelajari 3 tahun lalu banyak yang sudah tidak terpakai saat ini.

Gambaran lain, cobalah ingat pelajaran matematika apa yang Anda pelajari semasa sekolah menengah yang saat ini masih terpakai? Bisa disederhanakan hanya aljabar sederhana yang dipakai. Apakah logaritma dan kalkulus terpakai? Kebanyakan tidak.

Jika banyak hal yang kita pelajari dahulu tidak terpakai lagi, sungguh sia-sia waktu (orang tua dan anak), pikiran (anak dan orang tua), dan biaya  yang dikeluarkan orang tua untuk berusaha membekali anaknya dalam kehidupan, melalui sebuah skema bernama sekolah.

Alasan lainnya tidak-sekolah seperti diungkap Leo dalam tulisannya tadi:

  • Ini adalah cara entrepenuer belajar. Sekolah mempersiapkan anak menjadi pekerja yang baik. Dengan segala sertifikasi formal dan pengakuan yang mengikutinya di kemudian hari. Pelaku usaha belajar menghadapi masalah lalu menyesuaikan langkah agar usahanya bisa beradaptasi, termasuk mempelajari langkah baru yang revolusioner.
  • Lebih alami. Sistem sekolah adalah penemuan relatif baru, dan itu bukan cara alami manusia belajar. Tidak-sekolah adalah metode pendidikan yang paling banyak digunakan dalam sejarah manusia—termasuk dilakukan beberapa orang terkenal seperti Leonardo, Da Vinci, Leo Tolstoy, Mozart dan Einstein.
  • Lebih bebas. Sistem sekolah cocok untuk yang menyukai keputusan telah dibuat untuk mereka. Padahal kebutuhan hidup berubah. Dan jika Anda lebih suka belajar dengan cara berbeda, Anda ingin kebebasan lebih banyak.
  • Orangtua ikut belajar bersama anak. Salah satu berkah lain menjalan metode tidak-sekolah. Kami banyak mempelajari hal baru ketika berusaha menjawab pertanyaan anak, bila kami mampu menjawabnya. Bila tidak kami akan mencarinya bersama-sama
  • Belajar itu tidak terbatas. Siapa yang anaknya tidak suka ketika masa liburan sekolah datang? Sekolah kenyataannya menekan. Seakan-akan setelah sekolah maka siswa bebas sudah tidak perlu belajar lagi. Itu mungkin gambaran anak-anak mencoret-coret baju mereka setelah lulus, sebagai "perayaan". Kehidupan tidak-sekolah tidak menciptakan peluang itu karena sesungguhnya belajar itu selama-lamanya.

Dan, ini adalah tambahan saya, lebih melindungi anak. Di tengah carut marut pendidikan seperti di atas, apa yang lebih baik daripada dekat anak dan bisa menjawab segala kebutuhan belajar anak secara langsung. Coba bayangkan anak 7 atau 8 tahun Anda mulai bertanya tentang seks, atau hal sensitif seperti isu etnis, topik dewasa seperti kematian, perceraian, dll. Padahal rasa ingin tahunya sudah demikian tinggi. Hal-hal seperti itu tidak/belum diajarkan di sekolah, seperti pada umumnya di Indonesia, untuk anak sesuainya. Dengan tidak-sekolah, kami bisa mengajarinya dengan bertahap, tanpa membunuh rasa penasaran anak. Hal ini melindunginya dari pengetahuan kurang selektif dan (mungkin) kurang tepat dari teman sebaya mereka.

Itu adalah sebagian alasan saja. Bagi orang lain alasan tidak-sekolah tentu bisa berbeda-beda. Tapi saya kira sebagian ini cukup mewakili.

Bagaimana Melakukan Tidak-Sekolah?

Prinsipnya tidak ada hal baku dalam pembelajaran tidak-sekolah. Waktu keluarga satu berbeda dengan keluarga lain. Keadaan ekonominya berbeda, dananya berbeda, pendidikannya orang tua juga berbeda. Belum lagi kita membahas rasa ketertarikan anak yang berbeda. Sifat dan karakter anak juga berbeda.

Apa yang kami lakukan dalam kegiatan tidak-sekolah anak pertama kami? Berikut gambarannya:

  • Belajar tanggungjawab. Di antaranya adalah memberi makan hewan peliharaan. Membersihkan sampah. Belajar mencuci piring. Menyapu. Menjaga adiknya. Juga belajar mengaku kesalahan, atau mengakui prestasinya.
  • Berkunjung ke museum dan tempat bersejarah. Anak kami suka sekali pergi ke museum. Beberapa museum yang dikunjunginya: Museum Nasional (Gajah) di Jakarta, Museum (diorama) Monas di Jakarta, Museum Kartini di Jepara, Museum (foto) MURI di Semarang, Museum Purbakala Trinil di Ngawi, Jawa Timur, Museum Trowulan di Mojokerto. Ketika berkunjung ke suatu tempat baru yang bersejarah dan ada museumnya, anak saya pasti ingin mengunjunginya. Kami juga pernah berkunjung ke National Museum di Chiang Mai, Istana Bu Bhing, juga di Chiang Mai, Museum Madame Tussauds di Bangkok, dan Museum Queen Sirikit dan Grand Palace di Bangkok.
  • Melihat, mengapresiasi, dan menikmati karya tulis, karya seni, dan bahasa. Kami mengajak anak ke pameran lukisan. Berdiskusi buku atau karya tulis. Melihat pertunjukan wayang kulit. Melihat karnaval budaya asing dan lokal. Kami juga suka berdiskusi setelah berkunjung atau melihat budaya orang lain.
  • Membaca. Banyak buku. Majalah. Juga koran.
  • Belajar mencari di internet. Anak saya bisa secara bertanggungjawab mencari di internet. Dia akan bertanya bila tidak mengerti. Atau melaporkan bila ada hal-hal yang aneh ditemukannya.
  • Sabar dan percaya bahwa mereka belajar. Kadang ada suatu hari anak hanya diam, seperti melamun. Kita suka tidak sabar dan ingin menegurnya, kenapa diam saja? Kenapa tidak melakukan hal lain yang bermanfaat? Padahal, sesungguhnya dia sedang merenung dan berpikir. Dan percayalah, mereka belajar, setiap saat. Tidak bisa dibayangkan apa yang anak saya pelajari saat ini dibandingkan saya pada usianya dahulu.

Beberapa Pertanyaan Umum

Untuk menjawab beberapa pertanyaan umum tentang tidak-sekolah atau sekolah di rumah, berikut beberapa hal yang bisa saya utarakan:

  • Bagaimana dengan ijazahnya? Pertanyaannya saya balik, apa memang perlu ijazah? Bila perlu, ya kuliah. Saya kira ijazah sarjana atau pasca sarjana sudah cukup sebagai bekal masa depan mereka. Lalu, memangnya bisa kuliah tanpa ijazah SMP, SMA atau SD? Kan bisa ikut Paket A, B, C lalu kuliah. Atau alternatif langkah lain, sila baca tulisan klub Oase yang sudah mengkonfirmasi hal ini ke salah satu vendor pelaksana ujian sertifikasi Cambridge International Examination, salah satu pemberi sertifikat yang bisa dipakai untuk melamar kuliah di universitas-universitas di berbagai negara (ratusan), termasuk di Indonesia. Bila kemudian di masa yang akan datang anak kita memilih karir sebagai pekerja bebas yang tidak memerlukan ijazah, ya sudah pas. Silakan saja ia jadi pengusaha, penulis, seniman, atau pekerja bebas lainnya.
  • Sosialisasi? Inilah kata-S yang paling sering ditanyakan, dan jujur, paling mengesalkan. Tapi baiklah, silakan renungi. Bila yang Anda maksud sosialisasi adalah Anda mempunyai 20 orang kenalan dari SD, 30 dari SMP, 40 dari SMA, beberapa dari universitas yang bisa Anda simpan di kotak kartu nama, silakan Anda mencarinya di sekolah. Padahal, hanya sedikit sekali dari banyak nama-nama itu yang masih berkomunikasi dengan Anda saat ini. Tapi bila yang dimaksud sosialisasi adalah kemampuan beradaptasi, berkenalan, berempati, mengutarakan pendapat, mengkritik, menghibur yang susah, bergembira dan bertanggungjawab, maka itu adalah alasan sesungguhnya kami memilih tidak-sekolah.
  • Bagaimana bila gagal? Yang dimaksud gagal itu bagaimana dulu? Kegagalan itu ada banyak bentuknya: gagal melamar kerja di perusahaan top, gagal bisa berenang di percobaan kedua, gagal berlari 5 km, dst. Tapi kita bisa bangkit lalu mencobanya lagi, tentu banyak yang bisa menebus kegagalan itu. Gagal apalagi? Gagal anak tidak masuk kampus yang diinginkan? Atau gagal yang lainnya? Bila memang keadaannya demikian, kemungkinan kegagalan antara siswa sekolah umum dan pelaku tidak-sekolah sesungguhnya sama. Dengan menimbang itu semua, maka pilihan tidak-sekolah bagi saya jauh lebih bagus buat anak kami. Ingat, metode tidak-sekolah adalah menekankan sifat fleksibilitas dan pencarian untuk jawaban.
  • Mampukah anak berkompetisi? Ada kesan kita terlalu protektif, anak tidak akan menghadapi tantangan dan kerasnya kehidupan. Bila yang Anda maksud dunia bullying, justru kami mempersiapkan anak untuk siap menghadapi kehidupan yang keras seperti itu. Kalau kompetisi secara normal, justru sejak awal anak tidak-sekolah sudah dipersiapkan untuk menghadapi dunia yang berubah secara cepat.
  • Persiapan materi belajar? Tidak ada persiapan khusus. Sampai sejauh ini kami tidak memanggil guru untuk ke rumah mengajari anak kami. Itulah yang terjadi di keluarga kami. Kalau berbicara struktur, mungkin ada anak yang menyukai struktur pasti, ada anak lain yang ingin fleksibel. Anak kami termasuk yang terakhir. Meski demikian, kami juga menentukan ada jadwal-jadwal tertentu yang wajib ia lakukan, dengan fleksibilitas yang bisa ia atur. Misalnya mandi sebelum jam 9 pagi atau jam 5 sore. Mengaji sehari sekali, bisa dilakukan pagi atau sore hari, selama minimal 3 hari dalam seminggu. Belajar beribadah pada waktunya. Membaca beberapa kali dalam seminggu. Dan seterusnya.
  • Biayanya Mahal? Mahal atau tidak saya kira sifatnya relatif. Di keluarga kami, sarana wajib belajar misalnya: internet, buku (sebulan sekali), buku-buku lain, televisi saluran anak dan edukasi. Beberapa kegiatan lain membutuhkan biaya seperti les renang, les bahasa Inggris (**PEMUTAKHIRAN**: pada 2017, kami ikut klub bahasa Inggris di perpustakaan, tanpa bayar bisa belajar bareng-bareng). Biaya lainnya, tapi ini terjadi sekitar 10 tahun lagi, yaitu biaya ujian sertifikasi atau persiapannya. Biaya ini saya kira relatif jauh lebih sedikit dibanding biaya-biaya kursus. Pergi ke museum biayanya sangat murah. Hanya transportasi lebih mahal sedikit. Begitu pula belajar langsung di dunia seperti pergi ke pasar, ke bank, bertanya ke orang-orang di bidang terkait, biayanya sungguh sangat terjangkau.

Itulah sekelumit cerita tentang kegiatan tidak-sekolah, juga sedikit apa yang kami lakukan. Ini bukan panduan. Ini bukan ajakan. Apa yang saya ceritakan ini juga bukan hal pasti sifatnya. Saya menuliskan hal ini agar bisa membantu keluarga atau anak yang ingin mencari jawaban tentang proses tidak-sekolah (unschooling) atau belajar-di-rumah (homeschooling). Juga agar kawan-kawan yang ingin mendapatkan jawaban bisa memahaminya dari uraian di atas.

Catatan: sebagian dari tulisan (beberapa pointer di atas) diadaptasi dan diterjemahkan dari tulisan Leo Babauta, The Beginner's Guide to Unschooling (Thanks a lot Leo!)