Arif Widianto

Wahai Media, Sadarlah...

Apa yang menyebabkan heboh “penemuan” sejarah oleh seseorang yang dikatakan sebagai pakar telematika?

Saya tidak menyalahkan seorang berinisial KRMT RS, yang disebut sebagai pakar telematika oleh media. Hak setiap orang menyuarakan suaranya. Dan, hak setiap orang pingin suaranya didengar oleh banyak orang lainnya. Hanya salah media yang menyiarkan pakar salah dan kesalahkaprahan yang disebut sang pakar.

Tentang pakar, entah siapa yang memberi julukan itu. Tapi, saya kira banyak yang mafhum bahwa media di Indonesia akan ho’oh saja dengan apa pun jabatan atau gelar yang diakui sumbernya itu. Contoh: gelar dosen tapi omong soal politik tentu tidak keren, maka media yang suka poles muka akan menulis lain, jadilah “pakar politik nasional”. Atau, bila saya pingin menulis IT, padahal pekerjaan saya cuma membikin website, saya tulis saja “pakar IT”, kira-kira bisa dimuat kok. Begitulah kisah lahirnya sang pakar.

Bahkan, sudah umum, sebuatan-sebutan seperti “Kiai”, “Ustadz”, “Ulama”, “Tokoh” adalah sangat gampang dibikin oleh media. Sekali nama Anda tertancap sebagai gelar X, apalagi kalau Anda pintar omong, keren, dan lebih-lebih berkumis, jadilah anda si X. (Saya tidak bohong tentang kumis ini, sungguh kumis itu sangat menarik bagi kaum ibu, bukan?)

Media membutuhkan nara sumber yang makin lama makin kurang, karena kebanyakan media berkutat di Jakarta dan kota besar. Sumber berita di daerah kurang laku, biarpun omongannya benar belaka. Apalagi dikejar deadline, jadilah wartawan yang gajinya cukup buat bayar kartu kredit dan traktir sana-sini itu, tanpa berpikir panjang lagi, akhirnya mencari daftar nama di Rolodexnya, dan ketemulah pakar atau ahli yang di Jakarta (atau yang gampang dihubungi dan gampang kasih komentar). Ah, cepat dihubungi, bisa difoto diambil gambar, besok tayang. Siip!

Lalu apakah tidak ada upaya cek silang di redaksi pemberitaan? Entahlah. Tampaknya, persaingan keras media untuk mengejar jadwal tayang pemberitaan memaksa mereka melupakan hal itu. Buru-buru mau dicek, wartawan cuma segelintir. Bisa-bisa besok tidak bisa tayang kalau harus mengecek setiap fakta (nama, tempat, kejadian, dan kaitan tema) yang diucapkan oleh sumber berita.

Wahai media, sepertinya saya sudah gatel, orang berinisial KRMT RS ini sudah nekat bin mabok. Masak komentar seperti tukang kebun dimuat di detik? Lucu sekali. Saya kira nasib KRMT RS ini nongol di media sebentar lagi bakal pupus dan sirna. Syukurlah, dia membunuh dirinya sendiri. Anda tidak percaya? Kalau hal itu tidak terjadi, berarti memang negara ini yang bodoh.

Ah, jadi ingat film Shattered Glass (2003), seorang wartawan 27 dari 41 beritanya adalah khayalan belaka. Bedanya, di Indonesia berpuluh media dikibulin oleh sumbernya. Hahahahaha….

Blog yang membahas isu ini lebih pedas:

Catatan: Maaf buat rekan wartawan. Saya tahu sistemlah yang membuat Anda seperti itu. Tapi Anda pun harusnya sadar :-)